Senin, 30 Mei 2011

Sharing, pengalaman saat di Changi Airport mau kembali ke Jakarta (kemarin)

Ini adalah curahan hati saya saat kemarin akan kembali ke Jakarta dari Singapura.

 

Bagaimana saya berusaha menyikapi masalah dan perbedaan pendapat serta sifat orang yang berbeda-beda. Bukan untuk mendiskreditkan seseorang atau siapapun, hanya ingin berbagi cerita semoga bisa menjadi pelajaran.

Dan tidak akan terulang lagi kejadian seperti ini kembali.

 

Ya, kemarin malam memang jadwal kembali ke Jakarta dari Singapura. Seperti diketahui Bandara Changi adalah salah satu bandara tersibuk di dunia, dan Top 10 untuk luas dan fasilitas bandara di dunia juga.

Semua informasi termasuk bisa dikatakan update dan informatif sekali.

Mulai dari saat kita baru datang, handling penumpang, informasi dan tulisan semua ditulis dengan jelas, baik dengan bahasa Inggris, Melayu, India, dan China.

Semua rambu-rambu larangan, arahan dan himbauan tertulis jelas. Booklet airport juga tersebar gratis, petugas juga ramah dan informatif. Apalagi fasilitas bandara di dalamnya.

 

But, yang ingin saya bahas bukan apa yang ada di Changi, sudah banyak orang tahu.

Ini hanyalah dasar dari apa di cerita selanjutnya.

Apa itu?

 

 

Sore itu saya sudah memperkirakan waktu menuju Changi Airport dengan MRT dari kawasan Somerset. Lalu lintas MRT sangat  bisa diprediksi, jadi cukup bisa memperkirakan waktu buat sampai di bandara yaitu membutuhkan waktu sekitar 45menit termasuk anti MRT 2kali . Kondisi lalu lintas di jalan raya saya lihat juga tidak mengalami traffic yang berarti.

 

Sampai di Terminal 1 Changi suasana cukup ramai. Maklum hari minggu.

 

Beberapa maskapai sudah membuat fasilitas self check-in, disediakan alat buat check-in sendiri atau kita sudah web check-in sebelumnya dan print boarding pass.

 

Kebetulan saya sudah web check-in. Jadi langsung menuju verification desk.

Saya lihat antrian di drop-baggage juga tidak mengular dan parah. Ini salah satunya dibantu oleh aturan self/web check-in tersebut. Jadi cukup 5 menit saja antri. Beres.

 

Setelah itu saya menuju imigrasi Singapura. Dan antrian pun juga tidak banyak hanya 4-5 orang per baris. Dan ada petugas dan mengarahkan serta mengatur antrian.

 

Saya mendapati di deret lain cowok dengan dandanan necis, pakai kacamata hitam dan sedang menelepon dengan BB nya. Suaranya cukup kencang, dan dengan bahasa Indonesia.

Selama dia antri terus saja menelepon, sampai akhirnya dia kebagian waktu dia di imigrasi, dengan masih memegang BB di tangan dan menelepon.

 

Bisa diperkirakan, dibentak oleh petugas.

Disuruh matikan telpon. Ok dimatikan.

Masih dibentak lagi, disuruh lepas kacamata hitam. Akhirnya dilepas juga.

 

Padahal tulisan dilarang menelepon dan pakai kacamata sudah tertulis jelas di setaip meja imigrasi.

Ihik..!

 

Kebetulan saat itu schedule penerbangan saya adalah jam 20.55. Dan waktu boarding adalah jam 20.15 gate closed 20.35. Dan pastinya di setiap boarding pass semua tertulis jelas kapan waktu boarding dan ada tulisan gate akan di closed kapan.

Informasi gate open bisa dilihat di monitor schedule flight dan diatur ururt sesuai schddule flight, adan ada kode penerbangan juga dan lambang maskapai.

 

Tulisan jam penerbangan, nomer gate, keterangan gate tertulis jelas di setiap monitor di dalam bandara. Dan monitor itu sangat dengan mudah kita dapatkan dan mudah dibaca.

 

Karena waktu boarding masih cukup lama, saya sempatkan untuk melihat2 sekian store, dan merokok di taman.Sampai menjelang jam 8 saya menuju mendekati gate, gate kali itu adalah C18.

 

Cukup jauh memang karena posisi gate diujung, tapi yang males jalan juga ada escalator berjalan, jadi gak masalah.

Kalau jalan tanpa escalator dari imigrasi ke gate adalah sekitar 10 menitan lah.

Jam 8 kurang 15 saya mendekati gate, mampir sebentar di kios free internet tidak jauh dari gate C18, karena saya lihat di tulisan gate belum open, alias kita belum bisa masuk gate.

Sekitar 10 menit main internet, saya putuskan untuk duduk di kursi dekat gate.

 

Ada pengumuman dari petugas untuk penumpang penerbangan saya gate dipindah dari C18 ke C19. Pengumuman disampaikan sampai 4 kali, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (mungkin karena ini maskapai Indonesia jadi mix dengan bahasa Indonesia/Melayu).

 

Gate 18 ke Gate 19 sangat dekat, berseberangan pojokan. Jadi seperti membentuk huruf L. Karena C 18 di pojok. Jadi kalaupun sudah di C18 hanya berjarak 5 meter ke C19.

 

Setelah pengumuman diberi tahukan, display di monitor berubah. Dengan remark New Gate. C 19.

Dan di gate C 18 sudah bukan penerbangan saya lagi, tapi buat maskapai lain, saat itu asalah Qantas. Dan di C 19 di pintu monitornya sudah berubah menjadi penerbangan saya, dengan lambing penerbangan besar tulisan Jakarta, besar dan juga waktu terbang.

 

Saat itu saya duduk mengamati orang dan calon penumpang, sepertinya (mungkin) satu pesawat dengan saya.

Apa yang terjadi, ini beberapa petikan yang saya denger dan kuping :

“Kok Gate 18 sepi ya, trus ada tulisan Qantas, emang pesawat kita dimana Gate nya?”

“Kok gate berubah sih ga diumumin? Emang kayak gini nyebelin maskapai ini suka main pndah gate”

“Udah dipindah belum diopen juga gatenya gimana sih ini?”

 

Catatan :

Kenapa harus mengeluh dan marah?

Pindah gate itu pasti karena traffic pesawat di bandara yang mengharuskan adanya revisi atau perubahan tempat parker pesawat karena sebuah alasan, entah posisi parkir pesawat, lama tidaknya serta mungkin adanya perubahan schedule.

 

Dan yang ngomel-ngomoel dan marah itu adalah orang Indonesia.

Banyak juga penumpang yang lain dari negara lain juga, memilih diam dan cuek. Karena ini bukan masalah serius.

Hanya pindah Gate dan itu hanya berjarak 5 meter.

 

 

 

Ya, Singapura bisa dikatakan surga belanja bagi yang suka belanja. Apalagi events sale tahunan sudah dimulai kemarin itu.

Tak ingin membahas itu, yang ingin saya bahas adalah barang bawaan kabin penumpang.

Ya wajar aja sih banyak yang belanja di Singapura.

Tapi masalahnya, apakah semua barang bawaan harus dimasukkan ke kabin?

 

Apakah mereka tahu space ukuran kabin itu seberapa?

Selain ada keterbatasan space, juga ada keterbatasan maksimum berat.

Dan selain itu apakah mereka tidak mau berbagi dengan penumpang yang lain untuk tempat bagasi kabin?

 

Ya, karena saat masih gate belum dibuka. Terlihat banyak sekali calon penumpang mambawa barang bawaan yang menurut saya berlebihan untuk dibawa dikabin.

Mulai dari koper, tas jinjing, tas kresek, kotak, dll. Bahkan ada satu orang membawa 3 tas. Dan karena troly kecil masih bisa dipakai sebelum masuk gate, jadi banyak yang membawa troly kecil disini.

 

Padahal ada aturan di masing2 maskapai berapa masimal ukuran dan berat bagasi kabin. Bahkan untuk maspakai bintang 5 sekalipun  sudah ada yang menerapkannya.

Apa efeknya?

Nanti kita bahas.

 

Di depan gate selalu tertulis jelas, di bandara manapun yaitu barang yang tidak boleh dibawa di dalam kabin.

Semua sudah tahu lah, dan yang sering ketangkep pastinya, bawaan berbasis AIR yang tidak dibungkus rapat.

 

Btw, 5 menit kemudian ada tulisan menjadi Gate Open, alias kita bisa masuk gate. Petugas sudah siap untuk cek boarding pass dan penumpang melewati pemeriksaan barang bawaan kabin.

Disini antrian saya lihat antrian sudah kacau dan mengular, serobot sana sini, semua seolah-olah ingin masuk gate terlebih dahulu.

Bahkan ada bapak-bapak neylutuk saya perhatian :

“Mbak antri lah, bebek aja bisa antri”

 

Mbak atau ibu2 itu menjawab:

Kan saya bukan bebek”

 

Dan kenapa lama, karena beberapa penumpang terlihat kesulitan membawa barang banyak dan harus dimasukkan dan dijinjing sendiri dengan tangan untuk ditaruh di x-ray scanner. Dan beberapa ada yang harus membongkar tasnya.

Eh, ada juga yang ditegur petugas karena membawa troly masuk, padahal udah ada tulisan No Troly, mungkin saking banyak barang bawaan dan males nenteng kali ya.

 

Saya duduk saja, nunggu sepi, baru masuk.

Begitu masuk, saya melihat kursi kosong satu saya duduk disana. Kebetulan saya ingin ke toilet, saya tarus tas saya di kursi dan saya menuju toilet, saya pikir cukup aman, jadi tak masalah meninggalan tas punggung saya di kursi.

Begitu saya balik, saya mendapati kursi saya ditempat orang lain, dan tas saya tergelatak di lantai.

 

Saya samperin. Saya ambil tas. Trus dia bilang “Maaf mas, bisa duduk di kursi lain tidak, ini saya mau bareng teman saya”

Saya jawab “ok, thanks”

 

Dan kursi kosong terlihat agak cukup diujung L saya pun menuju sana dan duduk.

 

Pesawat malam itu sepertinya on schedule, karena pesawat dari Jakarta sudah datang. Jadi tinggal menurunkan penumpang dan kita bisa boarding sebentar lagi.

 

Saat penumpang pesawat dari Jakarta turun dan ada pramugari menuju gate buat konfirmasi ke petugas gate. Orang-orang sudah cukup ramai.

 

“Eh itu pesawatnya sudah siap, yuk boarding”

“Kok belum dipanggil boarding sih?”

 

Sepetinya tak sabar untuk memasuki pesawat.

 

Pastinya butuh persiapan beberapa menit, sebelum calon penumpang bisa boarding.

Saat pramugasi konfirmasi lagi ke petugas gate. Ada orang samperin dan bicara.

“Mbak kok gak dipanggil boarding sih? Lama amat”

Pramugari menjawab “Iya ibu, sebentar lagi”

 

Sebentar kemudian ada panggilan boarding, kebetulan saat itu yang dipanggil adalah yang mempunyai fasilitas ekspress boarding.

Tapi ya tetep yang lain menyerobot masuk, dan ditolak oleh petugas gate karena tidak sesuai nomor kursi.

Ya panggilan sesuai dengan nomer kursi yang dipanggil. Dan bagi yang nomer kursi yang belum dipanggil dipersilakan duduk dulu.

Tapi tidak, bahkan atrian sudah menjejali tak beraturan di dekat pintu.

 

Kenapa dipanggil sesuai nomer kursi atau barisan nomer kursi?

Ini dibuat agar penumpang bisa mudah masuk pesawat dan tidak bersedak-desakan masuk pesawat sehingga dengan mudah masuk ke kursi dan duduk sesuai nomer.

 

Nomer kursi saya kebetulan kemarin adalah 19A termasuk di deret belakang untuk pesawat A320. Sehingga dipanggil di bagian kedua.

Tapi antrian sangat padat dan mengular dengan rata-rata membawa barang banyak ini dan itu, membuat terlihat lebih sesak terasa.

 

Apalagi terlihat saat memasuki pesawat terlihat banyak yang kesusahan menaruh barang bawaan mereka di bagasi kabin, selain berat diangkat juga space yang terbatas.

Hasilnya, ramai ricuh, hanya untuk masalah bagasi kabin.

 

Bahkan terdengar teriak-teriakan antar penumpang untuk tukar kursi

“Eh, aku pindah dong duduk sana

“Kamu duduk sebelah sana aja, aku disini”

 

Lalu lalang depan belakang penumpang saat masih boarding, membuat sesak lorong kabin, hanya gara-gara tukar-menukar seat.

Padahal itu kan bisa dilakukan nanti saat pesawat sudah terbang.

 

Cukup lama proses boarding kali ini untuk sekelas ukuran pesawat A320.

Selain kericuhan ini dan itu soal tempat bagasi kabin, dan aw aw. Di atas kursi saya sudah full terlihat, saya hanya bisa mengatur dan memepetkan tas diatas atas tas ransel saya bisa masuk. Dan bisa juga dengan amak mepet-mepetin dan menyelinapkan tas.

 

 

Catatan :

Kenapa harus membawa bagasi banyak ke kabin?

Apakah tidak merasa kesusahan saat naik dan turun pesawat?

Apakah tidak empati ke penumpang lain yang juga membawa bagasi kabin.

Kalau sudah memilih naik pesawat dan sudah memilih bawa barang bawaan banyak, berarti kita sudah siap barang tersebut masuk ke bagasi pesawat, dan kalaupun itu melebihi kapasitas itu adalah resiko unutk bayar excess baggage fee Bukan seperti ini semua dibawa ke kabin, hanya gara2 menghemat uang, tapi merugikan orang lain.

 

Apa efek selanjutnya.

Proses boarding lama, bisa menyebabkan keterlambatan penerbangan, jika traffic di airport tersebut padat, bisa merubah schedule take-off menjadi lambat tentunya. Dan jika pesawat akan digunakan untuk penerbangan selanjutnya, akan menjadi terlambat dan akan terakumulasi untuk hari itu. Apalagi untuk menurunkan penumpang akan terlihat lama dan susah juga, karena barang bawaan kabin.

Bawalah barang bawaan kabin seperlunya, yang penting saja selama itu masih masuk ke dalam aturan bagasi kabin maskapai penerbangan tersebut. So, tinggal baca bukan? Atau minimal bertanya jika malas baca.

 

 

Setelah saya duduk di 19A, sebelah saya kosong dan seberang saya kosong termasuk belakang saya.

Jadi 19 B-19F dan 20 A-C kosong.

Saat itu pramugari mulai menghitung penumpang.

Oya, schedule penerbangan adalah 20.55 dan saya lihat di jam tangan sudah jam 21. 15. sudah over karena proses boarding.

Ehem…

Saat mulai dihitung penumpang, beberapa penumpang mengambil kesempatan menempati kursi kosong.

L

Padahal pintu pesawat belum ditutup, jadi masih memungkinkan ada penumpang yang belum masuk.

 

Benar saja, 5 menit kemudian. Pilot berbicara dari ruang kemudi, jika masih masih menunggu 10 penumpang yang belum masuk.

Dan kata pilot, mereka harus menunggu karena kondisi penumpang sudah check in dan ada check baggage.

So, menurut aturan penerbangan sipil memang pilot harus menunggu, karena bagasi sudah dimasukkan di pesawat dan bagasi tidak dapat dibawa tanpa penumpang tersebut.

 

Menunggu… dan menunggu.

 

10 menit kemudian, muncul 6 penumpang yang terlihat santai memasuki pesawat. Dan menuju kursi mereka.

Eits, kursi mereka yang awalnya dipikir orang kosong dan didudukinya ternyata datang yang punya nomer. Terusirlah mereka yang menduduki kursi itu dengan malu-malu pindah. #eaaa

 

Kenapa harus pindah sih dan menempati kursi orang lain?

 

Saat penumpang yang terlambat masuk tadi duduk.

Langsung diteriaki oleh beberapa orang?

 

“huuuuuuuuu”

“kenapa sih telat dan ditungguin?”

“emang ini pesawat nenek lu, sampe ditungguin?”

 

Dan rupanya penumpang yang terlambat masuk tadi tak mau kalah. Dia melontarkan jawaban kembali.

“Nunggu juga sebentar, cerewet amat”

 

Dibales lagi

“Emang lu siapa minta ditungguin”

 

Dan dibales lagi

“Eh, ini gara-gara pindah gate tahu, gak ada pengumuman sama sekali. Petugasnya aja yang salah main pindah-pindah gate segala”

“Lagian kaga dipanggil-panggil juga”

 

Dan beberapa penumpang dan pramugari terlihat melerai kericuhan ini.

Dan suasana terdiam sejenak.

 

Saat pramugari menutup bagasi kabin.

Ada penumpang menyahut
“Mbak, masih lama ga nih? Udah malam nih, masih nunggu orang lagi?”

 

Pramugari menjawab:

“Iya masih ada beberapa orang lagi”

 

Langsung sahutan

“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuu” terdengar.

 

 

Saya hanya tersenyum saja.

Melirik jam sudah jam 21. 40.

Padahal dalam hati agak miris juga, pasti kemaleman, ngantuk dan capek.

Tapi mau gimana lagi?

 

Sepertinya pilot dan FA membuat keputusan, bagasi penumpang yang terlambat masuk diturunkan, pintu pesawat di tutup.

Dan pramugari memberitahukan pesawat siap diberangkatkan, dan bagasi penumpang yang terlambat sudah diturunkan, begitu pengumuman yang disampaikan.

 

Setelah push back dan demo keselamatan, pesawat bergeak menuju lansadan buat take-off.

Sekali lagi pesawat berhenti.

Suara mulai muncul

“Ini kenapa lagi sih ini? Berhenti lagi, makin malam aja, ngantuk nih”

 

Dan beberapa saat kemudian pilot mengumumkan, karena adanya traffic di Changi, maka baru bisa take-off 10 menit kemudian.

 

Ini efek darimana? Salah satunya efek dari lamanya proses boarding, menunggu penumpang masuk ke pesawat. Akhirnya mau ga mau, schedule take-off ikut berubah. Karena sebelumnya schedule landing dan take-off semua pesawat di landasan sudah dischedulkan. Jadi jika ada perubahan pastinya harus sabar untuk mendapat giliran.

 

Setelah pilot mengumumkan hal tersebut, beberapa penumpang sudah resah dan mengeluh.

 

Wew!

 

Saya mencoba tidur dan memejamkan mata saja.

 

Dan akhirnya jam 22.00 waktu Singapura pesawat akhirnya take-off. 65 menit lembat dari schedule. Padahal sebenarnya ini awalnya pesawat ini ontime. Beginilah akhirnya…

 

Untung pesawat ini selanjutnya tidak dipakai hari itu, karena juga sudah malam. Coba masih siang atau pagi, pasti akan dipakai untuk penerbangan lain, dan apa efeknya, penerbangan tersebut akan ikut lewat schedule bukan?

 

SO, jangan buru-buru protes kalau ada pengumuman delay pesawat karena alasan operasional, ini salah satunya ya efek tersebut.

 

Walaupun dari pihak maskapai sudah membaut schedule yang baik dan tepat agar tidak adanya delay, tapi ya kadang bisa terjadi tanpa disadari dan tanpa diprediksi.

So, kerja sama penumpang juga ikut diperhatikan dan diharapkan.

 

Dan, malam itu sampai di Jakarta dengan antrian 45 menit di imigrasi dengan hawa panas di antrian.

Ini Indonesia Bung!

 

Catatan :

Kalau di Changi Airport jangan terlena dengan toko-toko buat belanja, atau nongkrong di kafe di dalam bandara.

Kalau memang ingin demikian sediakan waktu yang cukup dan kita  bisa arrange sendiri waktunya sesuai dengan kebutuhan kita.

 

Semua schedule, dan informasi gate terpampang jelas di monitor dan bisa dikatakan valid. Monitor tersebut jumlahnya banyak dan sangat dengan mudah didapatkan.

 

Pelajarai arah dan jarak dari posisi lokasi ke gate, bahkan di Changi ada informasi jarak posisi menuju ujung gate seperti (7 minutes walking, dll)

 

Jadi kita bisa melihat dan mengukur waktu kita sendiri.

 

Lebih empati lah ke orang lain, terutama dalam satu pesawat. Jangan pesawat terlambat hanya dikarenakan kita sendiri. Seperti proses boarding lama, baik karena antrian masuk pesawat, mengatur bagasi kabin, dan juga tukar-menukar seat.

 

Pasang mata dan care terhadap tulisan di boarding pass. Kapan waktu boarding, kapan waktu gate closed, dan lain-lain.

 

Serahkan keputusan kepada kapten pilot, karena dia sebagai pemimpin penerbangan, dia tahu yang terbaik untuk pesawat itu.

 

Di negeri orang lebih menjadi sikap dan aturan yang ada, intinya ga sulit kok, ga harus baca undang-undang atau aturan.

Biasanya cukup aware dan care terhadap tulisan atau rambu saja.

Karena aturan tersebut dibuat untuk kepentingan bersama dan tentu saja sebenarnya tanpa membuat sulit yang diatur.

 

Ini bukan masalah pengalaman sering tidaknya baik pesawat, tapi masalah bagaimana kita bisa care, baca dan patuhi aturan saja.