Kamis, 21 Maret 2013

Blackberry oh BB ku..




Sekarang sudah teronggok dingin dimeja kamarku, sudah lebih sebulan ini tak tersentuh, tak menyala dan tak digunakan lagi lebih tepatnya.
Blackberry Bold type 9000. Termasuk Blackberry generasi pertama yang masuk Indonesia, saat itu sekitar 2 tahun lebih yang lalu nekat membeli barang ini dengan harga lebih dari 5 juta, fantastis!
Sekarang?
Seperti barang tak berguna buatku. Padahal beterai juga sudah aku ganti 6 bulan yang lalu.

Kenapa aku putuskan ini?
Ya, ini pilihan dan ini keputusanku untuk tidak menggunakan gadget ini.
Gadget nya tidak salah, produsennya juga ga bersalah.
Ya kerena pilihan saja.

Aku berpikir, saat ini aku sekarang lebih bahagia saja tidak menggunakan Blackberry ini.
Tidak ada pemakaian pulsa untuk langganan paket BBM yang notabene untuk chat saja.
Tidak ada BM alias Broadcast Message yang lebih banyak berisi berita yang kurang penting.
Tidak ada chat atau BBM yang masuk disaat kita tidak inginkan.
Tidak ada isi BBM yang marah-marah karena kita telat baca atau tidak membalas.
Tidak ada kecaman hanya karena status BBM yaiu “R” alias Read dan “D” alias Delivered.

Aku harus rela kehilangan sekitar 300 kontak pin BB karena tidak lagi berkomunikasi via Blackberry Messenger.
Dan aku pikir, aku masih sangat bisa berkomunikasi dengan mereka dengan sms, telp, atau social media yang lain.

Bagi sebagian orang mungkin Blackberry masih sangat menjadi barang yang bergengsi.
Disaat kita bertemu teman dan ditanya „Berapa PIN BB kamu?“ dan aku menjawab „Maaf sudah tak pakai Blackberry sekarang“..
Mungkin aku akan dijawab „Ah, gak gaul lu“ „Gak seru nih ga bisa BBM“

Aku berpikir, justru orang yang menjawab dengan seperti ini dia justru tipe orang yang hidupnya bergantung dengan Blackberry, tanpa sadar waktu dia tergerus oleh kenikmatan chatting via BBM.

Wow, ironis.

Lebih tepatnya lagi, emosi aku tidak mudah terganggu oleh datangnya chat BBM yang kadang masih mengganggu dengan isi yang kurang penting.

Dengan tidak ada fasilitas ini, sebenarnya  masih sangat banyak faslitas chat melalui smartphone yang tersedia.
Aku pun sebenarnya tidak meninggalan dunia perchattingan.
Aku masih aktif di Whatapp, Line, dan juga Viber.
Aku pikir, 3 layanan komunikasi diatas lebih elegan dari pada Blackberry Messenger.

Tak perlu dijelasin kan siapa user dan aplikasi apa diatas itu.

Aku berharap dengan tidak menggunakan Blackberry lagi, tidak putus komunikasi dan pengguna Blackberry yang lain bisa lebih belajar apa arti sebuah waktu, chat dan teknologi untuk sebuah kata, menghargai.

So, Blackberry ku itu mau aku kemanain jadinya?
Dijual? Tentu tidak... sudah tak berharga mungkin..


Buat kenang-kenangngan saja.
Menjadi saksi cerita seru, sendu, tragis, rindu dan syahdu..

Thank you Blackberry-ku…

Kamis, 14 Maret 2013

Tips jika ingin mengunjungi Ho Chi Minh City - Vietnam




Kali ini saya akan memberikan beberapa tips yang mungkin bisa digunakan jika anda mengunjungi Ho Chi Minh City di Vietnam.
Kebetulan minggu kemarin ada kesempatan mengunjungi kota ini untuk sebuah urusan, setelah di tahun 2009 pertama kali saya mengunjungi Vietnam.
Berikut ini sedikit tips dari saya :

  1. Jika kamu akan ke Ho Chi Minh City atau yang biasa juga disebut Saigon di Vietnam ini, kamu bebas visa untuk masuknya, alias cuma pakai paspor dan bisa stay 30 hari disana.
  2. Penerbangan langsung dari Jakarta saat ini adalah AirAsia (Operated by Indonesia AirAsia), Vietnam Airlines dan Lion Air. Untuk Lion Air transit dulu di Singapura, tapi tidak perlu ganti pesawat.
  3. Untuk AirAsia per tanggal 14 April 2013 sudah tidak operasi lagi di QZ8234 ke Ho Chi Minh City, so jika kalian sudah terlanjur ada tiket kesana setelah tanggal itu, bisa di reschedulee atau di reroute via Kuala Lumpur. Refund tentunya juga bisa. So, tingal hubungi call center saja.
  4. Next, jika naik AirAsia ke Ho Chi Minh City kamu harus transit via Kuala Lumpur, dan tidak ada fasilitas fly-thru alias transit tanpa melewati imigrasi. Jadi kamu harus keluar masuk imigrasi. Better kasih jeda waktu 2 jam, jangan kurang.
  5. Bisa juga sih naik budget airlines  Tiger Airways, transit via Singapura dan harus ganti pesawat.
  6. Jika ingin naik full service yang direct bisa naik Vietnam Airlines. Yang transit Singapore Airlines, Malaysia Airlines atau Thai Airways.
  7. Untuk mata uang Vietnam alias VND (Vietnam Dong), better tarik tunai saja via ATM disana. Pastikan sekali tarik sesuai kebutuhan kamu tinggal disana.
  8. Dari Bandara Ton San Nhat di Saigon jika ingin ke kota bisa naik bus No. 152 tujuan Ben Thanh Market Terminal, tapi bus ini hanya sampai jam 7 malam yak. Atau kalau mau naik taksi pastikan naik taksi Vinasun atau Mailinh yang memang di Vietnam 2 taksi ini yang argonya benar. So selanjutnya jika ingin menggunakan taksi selalu pastikan 2 taksi ini.
  9. Disarankan print out dulu nama dan alamat hotel dengan bahasa dan tulisan Vietnam ya, untuk mempermudah saja jika ingin naik taksi, karena tidak semua supir taksi atau orang Vietnam bisa bahasa inggris.
  10. Oiya di Bandara Tan Son Nhat ini terminal domestic dan international beda gedung, dan harus keluar jalan kaki jika akan pindah terminal untuk connecting flight.
  11. Di depan bandara terdapat sebuah mall yaitu CT Plaza. Cukup jalan kaki 5 menit sudah sampai. Jadi kalau mau killing time, di airport dan ingin belanja, nonton film atau ke restoran bisa ke mall ini. Di depan mall ini juga banyak taksi Vinasun yang standby.
  12. Taksi Mailinh di airport setelah keluar kedatangan, belok kiri sampe ujung di tempat menunggu taksi nomer 1, ada petugas dengan topi MaiLinh warna hijau.
  13. Jarak ke pusat kota sekitar 7 km, ditempuh dalam waktu 20-30 menit dengan biaya taksi sekitar 160,000 VND.
  14. Tempat penginapan yang banyak ada di District 1. Dari yang murah sampai yang mahal ada disini.
  15. Tempat penginapan yang terkenal murah ada di Pham Ngu Lao Street (masuk gang kecil) atau di Bui Vien Street ini jalan selalu ramai.
  16. Pastikan hotel atau hostel menyediakan free wifi gratis, biar tetap eksis tentunya dan bisa akses goggle map. Karena kebanyakan hotel/hostel disana ada fasilitas ini.
  17. Makanan halal susah-susah gampang di Saigon. Ada resto Little India di Bui Vien dan dekat situ juga ada KFC juga resto VN Halal dekat Ben Thanh Market.
  18. Masjid di District 1 berjarak sekitar 2-3 km dari Bui Vien. Di sekitar masjid banyak juga makanan halal.
  19. Mengenai tempat wisata tidak akan saya bahas disini, sudah terlalu banyak yang bahas kan?
  20. Di Vietnam banyak sekali kafe dengan sajian khas kopi Vietnam yang yahud. So jika demen banget ngopi wajib kudu ke kafe disana. Nongkrong!
  21. Ini dia beberapa kafe rekomendasi dari gw :
    • Sozo Cafe
Tempatnya di Bui Vien 176 District 1. Sangat mudah ditemui. Kafe ini unik. Pelayannya sangat ramah semuanya. Kopinya yahud, ada free wifi. Kue dan cake nya mantab. Harganya juga sangat wajar. Disini mereka memperkerjakan karyawan dari orang yang kurang beruntung. Tapi jangan salah service yang diberikan sangatnya luar biasa. Menyediakan ruangan ber AC juga.
Buka dari 7 pagi sampai jam 22.30 malam.

    • Kita Kafe
Tempatnya di Nguyen Hue 39-41 District 1. Tempat di pojokan.
Kafe mungil dengan tatatan yang asyik. Ini kafe dengan rasa kopi yang paling nikmat!
Tempat di jalan raya besar dan sekitar terdapat pepohonan yang rindang. Ada ruangan ber AC dan juga non-AC. Pilih yg non AC di lantai atas. Unik dan free wifi juga.

    • MyLife Cafe
Tempatnya di Nguyen Du District 1. Sebenarnya awalnya saya ingin ke Café La Fenetre Soleil, tapi karena tak jadi akhirnya saya mengunjungi kafe ini, Tempatnya modern. Sofanya empuk, kopinya modern tapi nikmat. Harga juga tidak mahal. Pelayananya seger-seger. Dengan wifi yang cepet banget disini.

  1. Dan jika mau beli oleh-oleh khas Vietnam, Yang terkenal adalah beli di Ben Thanh Market.
Tapi kalian harus pintar menawar harga disini, ada blok kios yang fixed price juga disini. Hati2 dengan barang bawaaan ya, terutama HP, dompet dan barang berharga lainnya. Di Ben Thanh Market ini terkenal banyak copetnya.
  1. Kalo males ke pasar ini, bisa ke Department Store alias mall. Ada sebuah Mall di Nguyen Hue 35 yaitu Saigon Tax Trade Center yang menyediakan oleh-oleh dengan harga cukup rasional dan disana terdapat supermarket yang cukup besar juga.
  2. Jika mau beli oleh-oleh makanan lebih baik beli di supermarket saja. Khas Saigon adalah kacang-kacangan, dan juga oleh-oleh kopi serta teh. Lihat detail label halal jika ingin memastikan halal buat dikonsumsi, kudu jeli, ada kok yang ada label halalnya.
  3. Rekomendasi supermarket adalah di Saigon Tax Trade tadi Nguyen Hue tadi, atau di Citimart di Parkson District 1. Pilihannya banyak.
  4. Mau belanja baju. Di Saigon harga baju terbilang murah, karena di negara ini industri konveksi juga cukup pesat. Jika suka fashion dari butik lokal bisa ke jalan Nguyen Trai, sepanjang jalan ini banyak sekali butik lokal, dan juga terdapat Zen Plaza juga. Jika jalan lurus terus sekitar 1 km akan sampai di Vincom Center, mall terbesar di Vietnam. Dekat sana juga ada Gereja Katedral dan di belakang gereja ini ada Diamond Plaza.
  5. Saigon juga bisa diakses darat dari Kamboja, atau jika ingin melanjutkan perjalanan darat ke Kamboja juga bisa baik bus, agen bus banyak di District 1. Pastikan di agen yang benar, tanya petugas hotel lebih baik.
  6. Makanan khas Vietnam adalah Pho, alias mie beras dengan campuran kuah bening dan daging. Jika ingin makan Pho yang halal dan enak bisa ke resto VN halal atau di dekat masjid Tran Hung Dao di District 1. Atau di Saigon@Halal di dekat hotel Sheraton.
  7. Oiya, kota Ho Chi Minh ini lalu lintasnya cukup kacau untuk pengendara motornya. Dan ingat, mobil disana adalah stir di sebelah kiri. Jadi di jalan posisi lalu lintas terbaik dengan di Indonesia, pastikan saat mau menyeberang jalan.Selalu hati-hati dan jangan ragu saat menyeberang jalan ya.
  8. Situs untuk booking hotel bisa via agoda, booking.com atau langsung ke situs hotel/hostelnya. Jika ingin tahu review oleh pengunjung lain bisa di tripadvisor sebagai bahan pertimbangan.


Selamat jalan-jalan ke Saigon!
Semoga tips diatas bisa membantu ya…


Selasa, 05 Maret 2013

Pengalaman pahit booking tiket pesawat online di AirAsia dengan kartu kredit


Saya kali ini akan berbagi pengalaman saat melakukan booking atau pembelian tiket pesawat AirAsia melalui internet dengan redeem BIG Poin.
Jujur saya sangat kecewa sekali dengan system IT dan Finance di AirAsia, serta pelayan call center AirAsia Indonesia yang sangat tidak kooperatif dalam memberikan solusinya.

Kronologinya seperti ini.

Pada tanggal 13 Februari 2013, saya melakukan booking tiket pesawat AirAsia Jakarta-Ho Chi Minh City PP dengan redeem BIG Poin melalui website.

Setelah memilih tanggal yang sesuai yaitu berangkat dari Jakarta 9 Maret 2013, saya redeem sesuai poin yang saya miliki dan memang memungkinkan untuk jumpah poin saya.

Terdapat sisa pembayaran yang memang harus saya bayar disana, yaitu fuel surcharge dan pajak.

Kebetulan saya memiliki EGIFT Voucher AirAsia senilai MYR 50, dan saya menggunakannya untuk mengurangi pembayaran nantinya.

EGIFT Voucher sudah ok dan confirmed. Done.

Balance pembayaran yang masih harus saya bayar adalah Rp.434.033,34
Dan saya menggunakan pembayaran tersebut dengan kartu kredit.
Saya menggunakan kartu kredit saya pertama.
Gagal.
Saya coba lagi, gagal lagi.
Entah berapa kali lagi, dan terus gagal.

Sampai saya gunakan 2 kartu lagi yang berbeda dan selalu tidak bisa.

Saya penasaran, saya telp bank penerbit 3 kartu saya diatas.
Dan mendapatkan jawaban dari bank, bahwa kartu saya tidak ada masalah dari segi limit. Dan memang baru saja terjadi pembayaran berkali-kali di situs AirAsia.com

2 kartu saya bisa saya cancel pembayaran yang sudah ok, dan kembali ke kartu saya.

Ada 1 kartu yang memang saya terlambat konfirmasi dari bank (yaitu keesokan harinya), bahwa di kartu HSBC AirAsia saya pembayaran berhasil sebesar nilai tersebut pada tanggal 13 Februari 2013.

Saya mencoba telp Call Center AirAsia Indonesia (bahkan sampai berkali-kali) untuk mengkonfirmasi atas pembayaran yang berhasil dilakukan oleh HSBC AirAsia.
Dan saya sudah memberikan approval code dari bank untuk dilakukan pengecekan oleh tim Finance AirAsia, dan katanya membutuhkan waktu 2-3 hari kerja. Fine.

Setiap tiga hari saya menelepon lagi call center AirAsia Indonesia katanya masih dalam proses.
Sepertinya ada yang gak beres nih.
Sayapun berinisiatif menelepon call center AirAsia di Malaysia, dan komplain melalui situs AskAirAsia juga dan membuat laporan sampai 2 kali mengenai hal ini. Tetapi sampai detik ini tidak mendapat jawaban juga.

Dan…

Hari ini, 5 Maret 2013. Saya berinisiatif menelepon Call Center AirAsia Indonesia dan mendapat jawaban yang mengejutkan jika menurut finance AirAsia pembayaran saya gagal alias tidak masuk.

Saya mencoba menelepon Bank HSBC dan memastikan lagi (sampai 3 kali saya menelepon) transaksi saya tgl. 13 Februari 2013 tersebut senilai Rp. 434.033.34 dan semua call center bilang, OK. Confirmed.
Dan karena cetak billing tagihan saya baru per tanggal 6 Maret 2013 sehingga saya baru bisa menerima lembar tagihan kartu HSBC AirAsia saya paling cepat tgl. 11 Maret 2013. (lewat pos).

Call center AirAsia Indonesia tetap bersikukuh bahwa saya belum melakukan pembayaran dan mereka butuh bukti cetak tagihan saya. Walaupun hanya temporary billing.

Saya menelepon call center HSBC untuk meminta billing sementara melalui e-mail tidak bisa. Bahkan jika saya minta ke kantor HSBC terdekatpun katanya tidak bisa.

Fine!

Masalahnya disini adalah…

Penerbangan saya ke Vietnam ini adalah per tanggal 9 Maret 2013.
Dan besok sudah tanggal 6 Maret 2013. Dan kondisi saya saat ini sedang bisnis trip urusan kantor keluar kota.

Saya sudah booking hotel di Vietnam, dan juga membuat rencana schedule di Vietnam nantinya juga dengan rekan saya disana.

Kalaupun saya tidak bisa berangkat hanya karena tiket saya tidak confirm, siapa suruh tanggung jawab?

Saat saya menelepon kembali call center AirAsia Indonesia untuk menanyakan hal ini, dan jika ternyata setelah tgl. 9 Maret 2013 dan setelah billing tagihan kartu kredit HSBC AirAsia saya dapatkan yang akhirnya membuat saya tidak jadi berangkat terbang karena tiket saya belum juga issued. Apa solusi dan tanggung jawab AirAsia?
Call center hanya menjawab, “Ya tinggal di refund saja pak untuk pembayaran kartu yang masuk”

Duh! Hal ini membuat saya naik darah.
Dimana letak tanggung jawab AirAsia menyikapi hal ini dan sistem mereka yang selalu error saat dilakukan pembayaran online.

Saat saya mengkonfirmasi awalnya, apakah bisa dilakukan pembayaran untuk sisa pembayran ini melalui sales office, call center pun bilang tidak bisa.
Harus online.

Apakah saya harus mencoba kembali dan selalu error?
Sudah tidak terhitung berapa kali saya menelepon Call Center AirAsia Indonesia?
Bagaimana nasib bookingan hotel saya di Vietnam?
Acara penting saya di Vietnam?
Jika saya booking tiket mendadak sekarang ke Vietnam, harga sudah melambung tinggi sekali.

Dan menurut call center AirAsia Indonesia. BIG Poin dan EGIFT Voucher AirAsia saya tidak bisa kembali lagi, karena sudah confirmed jika ternyata saya tidak jadi berangkat karena system error yang mengakibatkan tiket saya tidak confirmed.

Yang harus digaris bawahi disini adalah :
Sebagai informasi, pihak Bank HSBC sudah mengkonfirmasi bahwa transaksi saya OK. Namun dari tgl. 13 Februari 2013 sampai 5 Maret 2013 (waktu yang cukup lama) pihak AirAsia membutuhkan waktu untuk cek dengan finance untuk pembayaran ini (yang katanya hanya butuh 2-3 hari kerja), itupun saya yang selalu mengingatkan menelepon sendiri. Dan hasilnya tgl. 5 Maret 2013 pembayaran tidak diterima.

Saya hanya punya waktu 3 hari kerja untuk menyelesaikan hal ini, jika ingin tetap terbang ke Vietnam dan tidak rugi hal-hal tersebut diatas.

Apakah saya harus ke kantor sales airasia dan memperdengarkan call center HSBC untuk mengkonfirmasi pembayaran saya yang berhasil? Apakah akan menyelesaikan masalah?

Sampai saat ini saya sudah sangat dirugikan atas waktu, biaya menelepon sana-sini. Dan akhirnya gagal.

Saya tinggal menunggu waktu mendapatkan billing tagihan HSBC saya dan saya akan tunjukkan ke AirAsia Indonesia jika selama ini system mereka gagal dan error.
Dan apa reaksi AirAsia jika ternyata system mereka yang error dan gagal?

Semoga pengalaman saya bisa menjadikan pelajaran bagi semua.
Dan semoga AirAsia bisa meningkatkan sistem IT, Finance dan juga call center menjadi lebih baik.

Saya pribadi tidak tahu lagi harus menyelesaikan dengan cara seperti apa lagi.

Terima kasih.