Selasa, 20 Maret 2012

(Bag.1) Cerita menuju ke Nanggroe Aceh Darussalam

Trip ke Banda Aceh ini sudah sebenarnya antara siap dan gak siap. Eh.

Siap karena tiket sudah aku siapin sangat jauh-jauh hari bahkan berbulan-bulan, gak siapnya karena karena kesibukan baru menjelang beberapa hari sibuk kasak-kusuk cari informasi trnasportasi dan akomodasi. *sok sibuk

 

Awalnya sudah direncanakan mengunjungi Sabang, ya Pulau Weh di ujung barat Pulau Sumatera alias pulau di bagian paling barat Indonesia.

Tapi, sempat berpikir akan menghabiskan waktu di Banda Aceh saja, karena hopeless sudah malas menyeberang ke Pulau Weh.

Secara awalnya ada kawan mau bersama trip bareng, dan akhirnya gak jadi.

 

 

Tapi, mau gak mau emang trip ke Banda Aceh ini harus dijalankan, ya dilakukan walaupun sendiri dan dengan persiapan yang menurut aku kurang matang.

Bongkar file, cari info di internet mengenai interest place, penginapan, merancang anggaran dan juga transportasi dalam kota.

 

So, rencana 23-26 Maret 2012 harus terlaksana mengunjungi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Sangat tak sabar, juga akhirnya, karena ini kali pertama saya ke NAD.

Walaupun saya cukup sering ke Medan di Sumatera Utara untuk urusan kantor, alias sudah dekat sekali ke Banda Aceh, tapi baru kali ini saya benar-benar akan menginjakkan kaki di propinsi terbarat di Indonesia

 

Ya saat itu ada long weekend tanggal 23 libur tanggal merah. Dan parahnya saya agak miss disini, saat seminggu sebelumnya aku buat detail rencana perjalanan dengan salah satunya mengunjungi Sabang, akhirnya aku kesulitan mendapatkan penginapan disana.

Penginapan favorit disana full,… kasak-kusuk mencari, browsing sana sini, mulai dari tripadvisor, milis dan juga blogs.

Sebelum trip ke Banda Aceh ini, saya harus ke Bali, ke Surabaya dan Makassar.

 

Finally dapat penginapan di daerah Pantai Kasih di Sabang. Dan Gajah Putih Guest House di Banda Aceh. Booked! Walaupun hanya lewat e-mail dan telepon.

Ya rencana akan 2 malan di Sabang dan 1 malam di Banda Aceh.

Rencana detail sudah ditetapkan 4 hari menjelang keberangkatan.

Bulan Maret 2012, salah satu bulan tersibuk di kantor, karena beberapa project yang aku pegang cukup menyita waktu dan salah satunya harus bisnis trip ke beberapa kota.

Ya salah satunya ke Makassar, di tanggal 20 Maret dan aku paksa kembali ke Jakarta 22 Maret 2 hari kemudian.

Karena di tanggal 22 Maret malam jam 20.30 start perjalanan trip ke Banda Aceh dimulai.

Flight malam? Ya flight malam, karena aku akan transit di Kuala Lumpur?

Hah? Ke Banda Aceh via Kuala Lumpur?

Ya mau gak mau seperti itu, seperti itu akhirnya harus aku tempuh, demi menghemat uang.

Serius menghemat sampai harus ke luar negeri dulu dan balik Indonesia?

Begitulah faktanya, aku menggunakan AirAsia, salahs atu maskapai low cost yang setelah aku hitung dan hitung plus total airport tax bolak-balik di dua negara total jendral aku hanya menghabiskan tidak lebih dari 800 ribu rupiah. Kok bisa? Ya bisa lah pastinya..

 

Aku landing dari Makassar jam 3 sore masih membawa koper dan pakaian masih rapi, ya maklum habis urusan gawean.

Buru-buru pulang buat ganti baju dan ganti ransel. Untung sudah menyiapkan ransel dan segala macam keperluan buat trip ke Banda Aceh. Jadi cukup tinggal mandi, ganti koper ke ransel, ganji baju pake jeans dan kaos plus sandal dan berangkat lagi ke bandara Soekarno Hatta.

 

Jam 7 malam, sudah nangkring lagi di airport Soetta. Masih ada 1,5jam lagi menunggu flight ke Kuala Lumpur.

Penerbangan malam itu agak molor, karena antrian take-off sekitar 30 menit. Jam 9 baru take-off meninggalkan Jakarta.

 

Jam 12 malam waktu Kuala Lumpur mendarat disana, dan penerbangan ke Banda Aceh akan ditempuh keesokan harinya jam 11.20 so masih banyak cukup waktu.

 

Sebelum keluar airport di Kuala Lumpur sempat menukar rupiah sebanyak 200ribu menjadi Ringgit Malaysia.

Buat bekal makan saat transit 2x, saat berangkat dan baliknya nanti.

 

Melangkah keluar di LCC Terminal KLIA malam itu, masih cukup ramai.

Beberapa kafe dan restoran dipenuhi orang yang memang mungkin senasib denganku, transit di Kuala Lumpur.

Ya, Kuala Lumpur memang hub airport untuk AirAsia, jadinya mau gak mau malam hari memang ramai sekali.

 

Rencana awal aku menuju Food Garden di ujung kompleks terminal, ya sebuah food court yang buka 24 jam dimana aku bisa menghabiskan waktu sambil internetan, makan atau baca buku, dan tentu saja isi batere buat ponsel.

 

Begitu sampai disana. Tutup.

Dan tertulis, sedang ada pemeliharaan pets control.

Baiklah..

Aku kembali ke main terminal, mencari mini market buat membeli air mineral dan setelah itu mencari tempat duduk yang nyaman menurut aku di dekat Food Garden tersebut.

Duduk, dengar musik sambil merokok. Menghabiskan waktu sebentar menunggu kantuk, dan berpikir akan tidur dimana malam itu. Karena aku sendirian, dan sekiranya tempat aman dan nyaman, karena tas berisi salah satunya kamera, laptop, ponsel, dan tentu saja dompet dengan uang cash 2 juta rupiah.

So, bagi kalian yang transit di LCCT KLIA jangan kuatir, temannya bejibun.

Ada sih hotel dekat airport, tapi demi menghemat uang aku skip aja.

 

 

Di dekat ku ternyata ada beberapa orang juga menunggu penerbangan esok hari, aku perhatikan mereka logat jawa tulen, ya logat jawa tengah. Rupanya mereka menunggu pesawat esok pagi jam 6 menuju Yogyakarta.

 

Dan di sebelahku, ada bapak-bapak dari Kinabalu juga menunggu pesawat jam 6 pagi menuju kesana. Kami sempat mengobrol membahas tentang Pulau Sumatera, dan beliau sangat tertarik sekali dengan pulau itu.

 

Mataku mulai mengantuk, kantuk sudah datang rupanya. Aku menguap.

Aku taruh tas ransel di bangku panjang, dan aku merebahkan tubuh degan ransel sebagai bantalnya, aku pikir lebih aman.

Mencoba tidur sambil deru suara mesin pesawat masih terengar.

Melihat beberapa bintang yang agak sedikit tertutup awan, ya tidak beratap. Alhamdulilah tidak hujan malam itu.

Mencoba tidur tapi sudah sekali rasanya, mungkin karena bangkunya keras dan badanku yang terasa capek membuat semakin pegal dan sakit terasa.

 

Aku duduk kembali, dan aku lihat bapak disebelahku sudah tertidur pulas, terbukti dengan suara terhembus dari mulut dan hidungnya.

Aku nyalakan korek, dan menghisap batang nikotin kembali. Sambil berpikir akan tidur dimana? Karena food court itu akan bukan pagi jam 4, ahh.. masih terlalu lama. Aku lirik jam tangan baru menunjukkan pukul 01.30.

 

Mata tertuju di samping bangunan food court, terlihat bayangan orang menggelepar tidur tenang.

Ah! Aku kan dulu pernah tidur disana juga. Ide cemerlang.

Langsung aku menuju tempat itu, aku buka ransel aku keluarkan jaket pasasitku sebagai alas tidur. Bagus.. posisi sudah nyaman sepertinya.

Aku set alarm ponsel di jam 05.30. Ya, masih terdengar deru mesin pesawat. Ah, tapi tidak mengapa.

Tak lama aku tertidur rupanya. Bagus.

 

Alarm ponsel berbunyi, aku matikan dan aku tertidur kembali.

Entah sudah kebiasaan atau memang aku terlalu letih pagi itu.

Aku justru terbangun karena suara orang berjalan dan berbicara di sekitarnya.

Aku membuka mata, masih gelap dan jam di tangan menunjukkan pukul 06.00 pagi.

Dan diskeitarku sudah tidak ada orang tidur lagi. Ok, aku terakhir bangun pagi. Kucek mata. Berusaha bangun serta mengingat-ingat dimana aku berasa #halah

 

Ok, aku menuju Food Garden yang rupanya sudah buka dan ramai pengunjung.

Menuju toilet buat cuci muka dan sikat gigi serta sholat shubuh.

 

Selanjutnya, aku menuju food courtnya, memesan nasi lemak plus beli susu kedelai sebagai menu sarapan pagi itu. Cukup lezat dan membuat perutku agak bergejolak.

 

Aku buka laptop dan menghibur diri dengan beberapa situs sosial media dan berita, yang lebih penting menghabiskan waktu pagi itu.

 

Sudah menunjuukan pukul 9 pagi. Aku menuju terminal kembali. Dan karena aku sudah web-check in dan mencetak boarding pass jadinya langsung masuk dan menuju imigrasi serta ruang tunggu keberangkatan.

Antrian imigrasi tidak begitu panjang, cukup beberapa orang dan hitungan menit aku sudah melewati imigrasi Malaysia dan menuju ke ruang tunggu keberangkatan.

Masih 1 jam lebih pikirku sebelum boarding.

Ruang tunggu LCC KLIA cukup kecil, tidak terlalu banyak yang bisa dinikmati. Akhirnya cukup duduk, menikmati musik dan membaca buku, pilihan telat pagi itu sepertinya.

 

Sambil aku lirik jam, rupanya sebentar lagi boarding, tak terasa.

Benar saja, beberapa saat kemudian panggilan untuk penerbangan ke Banda Aceh dengan AK1305 berkumandang.

Dan dipersilahkan menuju ke pesawat. Ya kami harus antri, dan setelah petugas pintu keberangkatan menyobek dan inspeksi paspor terakhir, aku menuju ke pesawat.

Di sebelahku aku lihat ada bule sendirian juga sepertinya, sama dengan diriku.

Aku sapa (dalam bahasa inggris), „ Mau liburan ke Banda Aceh atau ke Sabang?“

Dia jawab „Ya, ke Sabang akan menyelam disana“

Singkat cerita, kami berkenalan, namanya Christ berkebangsaan Amerika.

Sambil berjalan menuju pesawat kami mengobrol singkat tentang Sabang dan Indonesia.

Sayang sekali saat di pesawat seat kami terpisah jauh, dan keadaan pesawat siang itu menuju Banda Aceh full alis penuh, sehingga kami tidak bisa bertukar tempat duduk dengan penumpang yang lain.

Aku duduk di seat 15A dan Christ di 5F.

Rata-rata penumpang siang itu aku perhatikan adalah warga negara Malaysia, hmmm.. ramai juga rupanya di Banda Aceh pengunjung dari Malaysia.

Disebelahku ada anak kecil, perempuan, umur sekitar 3 tahun, ditemani ibunya di sebelahnya.

Dan, ternyata di pesawat ibunya tadi bertemu dengan kawan lamanya dan posisi tempat duduk kawannya itu di seberangnya, sepertinya bakal ada reuni dadakan di pesawat pikirku.

Benar saja, cukup riuh renyah dan ramai seru 2 ibu-ibu itu. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu, sebenarnya bisa aku kuping dan aku mengerti arti bahasa melayu yang mereka riuh perbincangkan, tapi aku sedang malas mendengar, badanku masih terlalu letih dan merasa kurang tidur sepertinya.

Ah,.. rupanya suara lagu di kupingku bakal kalah nih dengan suara obrolan penuh ceria 2 ibu-ibu itu dalam reuni dadakan di pesawat, pikirku.

 

Pesawat sudah siap, berangkat. Pramugari sudah selesai melukan demo keselamatan dan persiapan untuk take off dan menuju runway.

Tapi oh ternyata, 2 ibu-ibu itu tak henti berbicara dan ketawa, sepertinya tak mau melewatkan kesempatan waktu 2 jam kurang dipesawat sebagai ajang reuni gratis.

 

Masih ingat anak kecil 3 tahun perempuan disebelahku.

 

Ya, kasihan dia.. dia sepertinya dicuekin oleh ibu nya. L

Pesawat sudah berjalan menuju runway, anak kecil itu manggil ibunya “mama…mama..” tapi ibunya asyik terus bercanda gelagak tawa dengan wanita di sebelahnya.

Ya tak dihiraukan, anaknya langsung berdiri dan di kursi trus loncat-loncat.

Hey.. ini pesawat sudah jalan kondisinya… tapi ibunya malah asyik dengan aktivitas yang lain.

Arggh.. kasihan..

 

Aku?? Aaah! Mendadak menjadi seperti pengasuhnya.

Aku suruh anak itu duduk dan memasangkan sabuk pengaman.

Dia diam saja dan menurut.

Duh, semoga anak kecil itu tidak berpikir aku benar-benar pengasuh dadakannya, atau aku ini bapaknya.

Oh no!!!

 

Anak kecil itu kemudian, mengambil majalah pesawat di kantung depan dan membuka, dan kemudian... .. menyobek-nyobeknya sambil dia bernyanyi kecil, entah apa lagunya.

 

Aku mengela nafas,...

Kemana ibunya..??

Ya tentu saja masih asyik dengan teman lamanya.

 

Aku dengan sabar mengambil dan dengan bahasa tubuhku aku melarang untuk disobek-sobek.

 

Tak lama kemudian pesawat A320 itu take-off dan meninggalkan Malaysia menuju ke Indonesia kembali, tepatnya ke Banda Aceh.

 

Bismillah.. semoga lancar dan selamat perjalanku ke Banda Aceh nanti.. doaku dalam hati…

Perjalanan kali ini ditempuh dalam waktu 1 jam dan 25 menit.

 

Bagaimana nasib anak kecil dan ibunya di sebelahku.

Apa kabar Christ kawan bule baru ku itu?

 

Apa kejutan setelah aku landing di Banda Aceh, dan bagaimana akhirnya aku bisa sampai ke Pulau Weh