Senin, 15 April 2013

Pelayanan Prebook Meal dan Pramugari Citilink yang mengecewakan




Saya adalah penumpang Citilink dengan nomer penerbangan QG832 dari Jakarta ke Medan, tanggal 13 April 2013.

Dikarenakan jadwal pesawat saya adalah jam 6.55 WIB beberapa hari sebelumnya saya melakukan prebook meal di website sebagai menu sarapan pagi saya di pesawat. Dengan menu pilihan saya adalah Nasi Goreng Jaen.

Di website Citilink juga terlihat jelas gambar beberapa menu pilihan yang tersedia.



Di penerbangan itu saya duduk di seat 26A dan sebelah saya 26 B dan 26 C kosong tidak ada penumpang.

Pada saat di atas pesawat dan waktunya awak kabin membagikan prebook meal, saya adalah orang terakhir yang dibagi, karena kursi saya lebih belakang. Dan di depan saya ada sekitar 5 orang yang juga memesan prebook meal.



Ada 3 pramugari yang menghampiri kursi saya, 1 pramugari memegang tray makanan dan yang satu lagi menanyakan apakah saya memesan prebook meal nasi goreng? Saya jawab iya, sambil saya menyerahkan boarding pass saya untuk dikroscek kode SSRnya. Setelah itu satu pramugari lain menaruh makanan dan sendok di meja 26C dan 3 pramugari buru-buru pergi setelah menyerahkan kembali boarding pass saya.



Setelah saya lihat di meja 26C, box meal saya tidak tertutup rapi keliahatn seperti sudah dibuka sebelumnya dan berusaha dirapikan kembali. Dan begitu saya lihat box mealnya terdapat stiker dengan tulisan “Child Meal” saya langsung curiga.

Saat pramugari lewat di sebelah saya saya tanyakan. “Mbak, saya pesan Nasi Goreng bukan Child Meal”

Pramugari Citilink menjawab “Ini Nasi Goreng Pak, bapak pesan Nasi Goreng kan?”

Saya “Kok ini ada tulisan Child Meal?”

Pramugari “Buka dulu pak itu isinya nasi goreng” jawab pramugari dengan sangat terkesan tidak ramah.

Setelah saya buka di hadapan pramugarinya, isinya adalah benar Child Meal yaitu nasi butter, chicken nugget, dan potongan brokoli+wortel.

Saya “Ini Child Meal mbak, saya tidak pesan ini”

Pramugari “Ini nasi goreng pak sesuai dengan pesanan bapak” jawab pramugari tidak mau kalah.

Langsung saya ambil tiket saya, disitu tertulis tambahan pemesanan yaitu Nasi Goreng Jaen. Dan saya ambil buku menu di kantung kursi disana terdapat foto menu makanannya. Terpampang nyata perbedaan gambar Nasi Goreng Jaen dan Child Meal. Dan makanan di depan saya sama persis dengan menu Child Meal.

Langsung pramugari satunya lagi mengambil makanan tadi yang masih belum ditutup ke bagian depan pesawat. Ingat, makanan masih belum ditutup alias masih dalam keadaan terbuka.

Di bagian depan pesawat, terlihat pramugari tadi berdiskusi dengan pramugari yang lain.

Saya menunggu sekitar 5 menit hanya urusan ini, dan pramugari tadi kembali ke saya dengan menjawab “Pak, ini nasi goreng yang kita terima dari petugas catering” sambil pramugari itu meletakkan makanan di meja seat 26C.

Saya “Mbak, saya tidak pesan makanan Child Meal, tolong diambil makanan itu”

Pramugari “maaf pak, ini pesanan bapak” jawab pramugari Citilink

Saya langsung ambil kamera saya, dan saya foto makanan tadi dengan boarding pass saya sambil saya berkata ke pramugari itu “Mbak, ini yang salah bukan saya kan?”

Dan 2 pramugari itu beranjak pergi dengan kereta dorongnya tanpa ada kata-kata lagi untuk menjajakan makanan minuman ke penumpang yang lain.

Makanan tadi akhirnya saya tutup kembali, saya simpan tidak saya makan, dan saya bawa turun pesawat. Saya ingin mengembalikan makanan tadi kepada pihak Citilink, karena itu bukan hak saya.



Sangat jelas terlihat 3 pramugari yang salah satunya adalah P1 atau ketua awak kabin Citilink saat itu mengecewakan sekali.

Mereka sama sekali tidak menghargai hak penumpang, dan juga tidak menghargai makanan.

Pramugari-pramugari tersebut juga berusaha berdebat mencari pembenaran atas kesalahan mereka.

Boleh jadi ini masalah kecil, hanya senilai seporsi Nasi Goreng, tapi esensi dari tulisan saya ini adalah, bagaimana 3 pramugari Citilink di QG832 tadi mengecewakan dalam memberikan pelayanan.



Di hari sabtu 13 April 2013 setelah saya sampai di Medan, saya sudah tweet di akun twitter saya @arnandar dan saya mention akun @Citilink mengenai hal ini, dan tidak ada tanggapan.

Bahkan saya sempat menulis di twitter juga saat itu jika pihak Citilink mau mengambil makanan Child Meal tadi saya masih di Medan dan bisa diambil, karena makanan tadi bukan hak saya, karena saat pramugari tadi saya suruh mengambil pun mereka tidak mau.

Tetapi sampai hari minggu tidak ada jawaban, akhirnya makanan itu basi dan saya buang dengan segala rasa penyesalan saya.



Pertanyaan saya, mengapa saya harus dipaksa makan menu yang berbeda dengan pesanan saya?

Mengapa pramugari tetap bersikukuh itu Nasi Goreng dan tidak tahu perbedaan Nasi Goreng dan Child Meal?

Kalaupun pramugari tadi mungkin melakukan kesalahan entah tertukar atau bagaimana, mengapa tidak mengakui dan bicara baik-baik dari awal ke saya. Tanpa harus saya berdebat hanya masalah nasi goreng dengan pramugari-pramugari Citilink?



Saya sudah sering terbang dengan berbagai maskapai dalam dan luar negeri, full service maupun low cost. Tapi baru kali ini saya menemukan service inflight meal lewat prebook meal dan juga pelayanan pramugari yang sangat mengecewakan.



Walaupun saat naik pesawat kemarin saya menggunakan sandal, celana pendek dan kaos, bukan berarti saya orang awam terhadap dunia service penerbangan dan juga bisa ditipu mengenai menu makanan di pesawat.



Semoga pihak Citilink bisa memperbaiki pelayanan inflight meal dan juga prebooknya, yang juga lebih penting adalah pelayanan dan pramugarinya.



Saya mencatat semua nama awak kabin tadi, tapi saya masih menghargai mereka, saya tidak publish nama awak kabin Citilink tersebut, biar pihak Citilink yang melakukan internal investigasi mengenai hal ini.



Terima kasih

Tidak ada komentar: