Facebook Badge

Sabtu, 08 Desember 2012

BlackTrail Dayak Iban (lanjutan) Hari 1

Baiklah, mari kita lanjut lagi ke aktivitas hari 1 di Dayak Iban ya temans… 

Setelah koordinasi dan persiapan untuk upacara penyambutan tamu khas Iban selesai, rombongan dari kami, yaitu dipimpin oleh Mas Cahyo Alkantana (host acara Teroka), Nicholas Saputra, dan 1 perwakilan dari peserta Blacktrail berasa di bagian depan barisan, kami ber 4 yang lain berada di bagian belakangnya. 



Kami berjalan dari halaman rumah betang atau rumah panjang di Sungai Utik ini, sambil diiringi oleh musik pukul tradisi Dayak Iban, dan dibagian depan kami adalah anak-anak kecil yang menari dengan indah, seperti pawai budaya. Berkesan.. 


Sampai di pintu hilir dari rumah rumah betang, diawali dengan upacara tombak babi, 
Setelah itu kita satu persatu naik tangga dan menginjak sesajian di setaip anak tangga. 




Di atas, kita disajikan minuman khas Iban, gelas pertama harus kita buang di tanah, dan gelas ke dua harus kita minum. Hm.... 

Kita berjalan masih dengan musik gamelan/pukul khas Iban dan iriangan tarian, di bagian teras dalam rumah betang sampai 1,5x putaran. 



Baru kita dipersilakan duduk. 

Dan disajikan makanan kecil khas Dayak Iban. 

Setelah itu adalah makan siang bersama. Dan ini menu makanan saya siang itu. Dengan menu sayuran, alami banget kan.. 


Kita sambil menikmati makan siang, dihubur oleh tarian khas Iban yang diperagakan oleh anak-anak, dam mereka jago sekali menari, cantik tariannya.. 


Ini Nicholas Saputra berfoto bersama anak-anak Iban yang lucu-lucu 


Ini Rumah Betang kita tinggal 2 malam.. 

Karena kita masih kecapekan, dan setelah pembagian kamar, kita rehat sejenak. 
Oiya, kita kali ini tidurnya ikut di rumah penduduk di rumah betang ini, tentu saja kita berpencar dan dibagi-bagi oleh panitianya. 

Sore harinya jam 15.30 kita menuju sungai di dekat dekat rumah betang untuk ikut penduduk setempat mencari ikan di sungai. 


Sekalian kita syuting profile masing2 peserta disini. 


Dan kita ketemu buah ini, bisa tebak ini buah apa? 

Setelah selesai, kita ingin sekali makan durian. Akhirnya kita menuju ke hutan untuk mencari durian. 
Dan melewati sekolah ini. 


Dan SD ini unik, tiang benderanya umurnya sudah tua dan unik kan.. 

Bertemunya dengan ibu-ibu pulang dari hutan dan membawa banyak sekali durian di keranjang, dengan baik hatinya ibu-ibu tadi membagi duriannya, dan kita nikmati bersama. 
Luar biasa ramah sekali mereka. Mereka senang sekali ada tamu, dan menjamu dengan maksimal memampu yang mereka punya. 
Duriannya..?? jangan ditanya super lezat!! Cerita detail durian ntar ya.. ada sesi tersendiri. 

Setelah itu kita tetap masuk hutan mencari durian, sampai hari hari gelap. Dapet ga ya? 


Setelah itu malamnya kita makan malam bersama, dan berkumpul di teras dalam rumah betang untuk acara ramah tamah dengan penduduk serta tetua adapt Iban dan berdialog serta tanya jawab mengenai budaya Dayak Iban. 
Seru…! 
Sampai jam 10 malam, dan kita harus beristirahat. Karena besok, acara kita penuh dan seru.. 
Penasaran kan di hari ke-2 kita ngapain aja.. 





Tunggu ya.. 

BERSAMBUNG 

All Photo Courtesy of National Geographic Indonesia 
#BlackTrail #DayakIban 

Going Native di Dayak Iban #BlackTrail dengan National Geographic Indonesia dan L'Oreal Men Expert


Going Native di Dayak Iban
Oleh : Arifien Munandar









Perjalanan kali selama 4 hari 3 malam di Dayak Iban dalam rangkaian Program BlackTrail bersama L’Oreal Men Expert dan National Geographic Indonesia, merupakan perjalanan yang menghasilan pengalaman yang luar biasa berharga. Bagaimana kita bisa mengenal lebih dekat tentang kearifan budaya khas Iban, menyatu dengan penduduk setempat, ikut bersama dalam aktifitas mereka sehari-hari serta belajar dari nilai positif akan arti sebuah kekeluargaan dan kebersamaan. Dengan mengambil tema Going Native diharapkan memang kita bisa mengenal lebih dekat masyarakat Dayak Iban dengan mengikuti aktivitas keseharian mereka.

Suku Dayak Iban, adalah sebuah suku yang tinggal di Dusun Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat.
Dari kota Pontianak ibukota propinsi Kalimantan Barat bisa ditempuh lewat jalur darat dengan waktu tempuh sekitar 15 jam, atau dengan menggunakan pesawat dari Bandara Supadio dengan waktu tempuh 1 jam.
Dari Bandara Pangsuma di Kabupaten Putussibau, kita harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil dengan waktu tempuh 2 jam.


Jalan yang mulus dan bagus, serta pemandangan perbukitan dan perkampungan khas suku dayak yang unik menghiasai perjalanan menuju Sungai Utik.

Sungai Utik itu sendiri berada di lintasan strategis berada dengan perbatasan Serawak Malaysia. Kecamatan Embaloh Hulu itu sendiri berbatasan dengan Serawak di bagian Utara dan Barat, Kecamatan Putussibau di bagian Timur, dan Kecamatan Batang Lupar di bagian Selatan.

Dayak Iban di Sungai Utik itu sendiri menempati kawasan hutan seluas 9.452,5 ha di Kabupaten Kapuas Hulu. Dan mereka mempunyai ciri khas yaitu Rumah Betang atau Rumah Panjang sebagai identitas mereka.


Rumah Betang di Sungai Utik ini mulai ditempati sejak tahun 1978 dan dibangun selama kurun waktu sekitar 5 tahun sebelumnya, sampai saat ini mempunyai panjang sekitar 150 meter dan mempunyai 28 bilik kamar atau ruangan. Setiap bilik bisa ditempati 1 sampai 3 kepala keluarga.

Sebagai pembanding, kita juga mengunjungi Rumah Betang tertua di Sungai Uluk Palin yaitu dibangun pada tahun 1938 dengan panjang 204 meter terdapat 53 bilik. Rumah Betang ini terdapat di Suku Dayak Tamambaloh yang ditempuh dengan perjalanan darat dari Kota Putussibau sekitar 1 jam perjalanan.

Rumah Betang ini sebagai bukti solidaritas dan kebersamaan antara warga, karena dalam rumah ini dengan mudah antara Tuai Adat (tetua adat), kepala kampung, tumenggung dan hulubalangnya mengadakan pertemuan rutin serta pertemuan tentang penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Pak Janggut, yang merupakan salah satu Tuai Adat di Dayak Iban Sungai Utik, menjelaskan jika hutan yang mereka tinggali saat ini harus dijaga kelestariannya, karena mereka hidup dari hutan mulai dari berladang, sayur mayur dari hutan, serta ikan dari sungai yang berhulu di hutan mereka. Hutan adalah hidup mereka dan harus diturunkan kelestariannya untuk anak cucu nantinya.

Setelah melihat sendiri tentang kelestarian hutan di Sungai Utik ini, dan mengikuti aktifitas menyusuri sungai Utik menuju ke hulu, masuk ke dalam hutan dan menjumpai beberapa pohon-pohon khas dari Borneo. Salah satunya yang dominan adalah pohon kayu meranti dan kapur, tetapi banyak juga ladan, kempas, jelutung, dan gerunggang. Walaupun mereka juga mempunyai aktifitas berladang, tetapi harus diakui jika hutan disana masih sangat terjaga kelestariannya. Dan patut mendapat predikat “The last standing forest in Borneo”.
Mereka tidak tergoda oleh tawaran dan godaan materi dari investor untuk menebang kayu dan membuka ladang untuk mengeksploitasi hutan mereka.



Dan berkat ketekunan mempertahan kelestarian hutan, Lembaga Ekolabel Indonesia tahun 2008 memberikan setifikat ekolabel yaitu pengelolaan hutan lestari terhadap hutan adat di Sungai Utik, dan Sungai Utik adalah desa adat pertama yang menerima sertifikat ini.

Selain mereka mempertahan hutan sebagai salah satu tradisi mereka. Tradisi lain pun juga selalu dijaga dan dipertahankan. Dalam menyambut tamu, mereka akan menyambut dengan tarian khas Iban, tamu diarak berkeliling selama 3 kali di teras dalam Rumah Betang, dan diiringi oleh musik khas Dayak Iban.
Makanan dan minuman khas juga selalu disajikan disini, dan menu makanan yang disajikan selama kami disana pun adalah berbahan dasar dari apa yang mereka dapat dari hutan, sungguh alami dan rasanya enak sekali.

Hutan adalah bagian hidup mereka, untuk berladang, sumber air, buah dan sayuran. Hutan cadangan juga untuk kayu bakar dan tanaman obat dimanfaatkan untuk itu.

Sanitasi di dearah ini juga terjaga, mereka sudah membuat WC dan juga kamar mandi di setiap bilik. Sehingga sungai di dekat mereka tinggal bisa dimanfaatkan untuk mencari ikan, mandi dan juga membersihkan peralatan berladang.

Di akhir tahun disana sedang musim durian, sehingga sangat dengan mudah kita mendapatkan durian yang jatuh di hutan. Jangan khawatir, durian disana masih segar dan tidak membuat kepala pening. Terdapat 4 jenis durian yang kami jumpai disana, yaitu durian kuning, durian putih, durian oranye, dan satu lagi durian merah (merah di kulit duriannya). Semua memiliki rasa yang berbeda, dan tentu saja jangan ditanyai mengenai rasanya yaitu sangat nikmat dan lezat.

Dayak Iban menyadari bahwa "Hutan memberi kami air bersih, sehingga darah kami bersih. Tanah kami utuh, tanah menua dan tidak dibabat. Hutan kami menangkap karbon, gas yang beracun sehingga kami terlindung dan kami tidak terkena penyakit. Karena itulah mereka sadar ini salah satu bagian yang harus selalu ditanamkan terdahadap anak cucu mereka.

Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah saat ini adalah fasilitas penerangan, karena saat ini mereka untuk malam hari terbatas menggunakan genset. Terkait dengan harga solar yang tinggi serta jauhnya jarak untuk membelinya juga sehingga pemakaian genset itu sendiri juga sangat terbatas. Sehingga mereka harus menggunakan lampu minyak di malam harinya.
Dan juga masalah sarana telekomunikasi, disana sama sekali tidak terdapat sinyal telepon. Sehingga jika harus melakukan komunikasi melalui telepon genggam harus menuju ke puncak bukit yang berjarak sekitar 1 km dari tempat mereka tinggal.

Belajar tentang kearifan budaya Dayak Iban, membuat kita mengerti apa arti alam bagi hidup kita. Menghargai dan bersahabat dengan alam, melestarikan budaya sebagai warisan leluhur dan juga sebuah arti kebersamaan dan kekeluargaan antar sesama.










Pengalaman menggunakan produk L’Oreal Men Expert

Saya sudah lama menggunakan rangkaian produk L’Oreal Men Expert ini, tidak hanya pembersih muka tetapi juga pelembab kulit muka.

Saat kemarin beraktifitas selama 4 hari 3 malam di rangkaian acara Black Trail di Dayak Iban. Kita harus berkegiatan dibawah sinar matahari langsung, berkeringat tentu saja. Melakukan off-road juga  yang mengakibatkan kulit terkena kotoran dan lumpur, menyusuri sungai utik dan masuk ke dalam hutan.
Dengan adanya pembersih muka dari L’Oreal Men Expert ini bisa membersihkan kulit wajah saya dengan maksimal setelah berakfitas tadi, apalagi kulit saya berminyak sehingga setelah dibersihkan wajah kembali segar dan kulit kembali bersih dan sehat.

Saya menggunakan pembersih muka Pure Matte Charcoal Scrub Deep Action dari L’Oreal Men Expert ini, karena sesuai untuk kulit saya yang berminyak, maksimal membersihkan kulit yang kotor setelah beraktifitas luar ruangan. Dan wajah saya bebas dari jerawat.
Dan untuk keseharian, setelah mencuci muka, saya juga memakai Mattifying Toner, cukup dibantu kapas untuk membantu mengecilkan pori-pori kulit. Serta setelah itu dilanjutkan dengan pelembab kulit atau Moisturizing Gel Pure and Mate yang melembabkan kulit selama 24 jam, membuat kulit bebas dari minyak, sehingga kita bisa beraktifitas maksimal dan untuk kesehatan kulit juga tentunya.
Semua aktifitas tadi cukup simple dilakukan, hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 5 menit. Sehingga tidak menyita waktu banyak dan tidak ada alasan untuk melewatkannya.
Yang pasti kulit muka pria itu berbeda, pori-pori kulit lebih lebar dan permukaan kulit lebih kasar, sehingga diperlukan pembersih muka yang benar-benar sesuai untuk kulit pria.
Dan L’Oreal Men Expert salah satu produk yang benar-benar mengerti akan hal ini.
Kalau tidak kita yang merawat kulit kita sendiri, siapa lagi.
Karena kita begitu berharga.


(Photo by Detri W)

All Photo Courtesy of National Geographic Indonesia





Kamis, 06 Desember 2012

BlackTrail Dayak Iban, Hari 1



Perjalanan kali ini sebenarnya adalah perjalanan jalan-jalan gratis, karena ada sebuah event yang diselenggarakan salah satu National Geographic Indonesia dan Loreal Men Expert serta diliput oleh Kompas TV untuk acara Teroka.

Setelah melalui beberapa proses seleksi beberapa kali, akhirnya saya terpilih 1 dari 5 yang diberangkatkan oleh panitia ke Dayak Iban, sebuah tempat di dearah Kalimatan Barat.
Ini sebenarnya bukan full jalan-jalan, tetapi kita ada misi juga, serta diliput media televisi untuk dijadikan sebuah acara di salah satu TV swasta, dengan tema Going Native.

Ya, kita akan mengenal budaya dan ikut dalam kegiatan keseharian di Dayak Iban tersebut.

Setelah dilakukan breafing sebelum hari H keberangkatan, saatnya kita menuju TKP yaitu di Dayak Iban.

Bagaimana rutenya, berikut sedikit TR kita bisa saya ceritakan disini :


Ini barang bawaan saya kali ini, ratu ransel penuh, karena bakal stay di hutan selama 4 hari 3 malam, jadi terdapat sleeping bag, baju hangat, peralatan mandi, rain coat, sandal, dry bag.

 

27 November 2012
Jakarta (CGK) – Pontianak (PNK) GA500
ETD 06.00 actual 06.20
ETA 07.30 actual 07.40

Boarding dengan PK-GGE B735 GA
 


Dan lumayan masih ada hiburannya.
 


Take-off mulus dengan menu khas sarapan pagi GA.



Tidak bisa tidur, walaupun ngantuk terasa sekali. Dan landing dengan mulus di Bandara Supadio Pontianak, dan naik bus menuju terminal kedatangan.
 

Suasana pengambilan bagasi yang penuh sangat, karena pagi itu ada flight SJ yg datang hampir bersamaan dari Jakarta juga. Dan kami membawa sekain banyak bagasi karena termasuk peralatan untuk syuting selama 4 hari 3 malam di Dayak Iban nanti.



Setelah kita mengambil bagasi, kita menuju terminal keberangkatan kembal, karena kali ini kita akan melanjutkan perjalanan menuju Putussibau (PSU) dengan menggunakan Kalstar.
 

Suasana check in counter Kalstar
 

Karena akan menggunakan pesawat ATR, jadi disusakan semua tas masuk bagasi, dan ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat ATR. Hehehe..



Setelah check-in selesai masih ada waktu 15 menit, kamu minum kopi d salah satu kedai, cukup murah Rp.10 ribu sudah mendapat kopi panas, lumayan mengurangi rasa kantuk saya, ini di depan saya ada Nicholas Saputra yang menjadi partner kita selama 4 hari di Dayak Iban nanti.
 

Jam 8.10 kita pun boarding dengan menggunakan bus menuju pesawat.
 

Ini terlihat pesawat yang akan saya gunakan nanti.
 

Pontianak (PNK) – Putussibau (PSU) KP-944
ETD 08.25 actual 08.35
ETA 09.25 actual 09.30

Ini pesawat saya nantinya PK-KSI
 

Dan ternyata duduknya bebas.

Ini view dari kursi saya, lupa seat berapa ya..
 


Sebentar kemudian take-off.
 

Melewati awan tipis.
 

Disajikan minuman gelas dan wafer kecil. Nice...
  



Selama perjalanan lancar, walaupun suara bising terdengar membuat susah tidur juga.

Terhampar pemandangan sebelum landing.
 


Dan landing dengan mulus di Bandara Pangsuma, Putussibau.
 
Disambut oleh gerimis.
Dan suasana di bandara Putussibau cukup ramai, karena kita saat itu kita memang sudah mulai syuting disini dan memang terdapat 1 aktor yang bersama kami juga.
 


Kami berjumlah total 16 orang dari Jakarta. Dan menggunakan 4 mobil, dan kali ini menuju Sungai Utik, sebuah dusun di Kec.Embaloh Hulu Kab.Kapuas Hulu. Yang ditempuh dalam waktu 2 jam.

Kita mampir dulu ke mini mart, karena kita disana bakal jauh dari pasar apalagi toko. Dan syuting lagi disini J
 

 

Melewati hutan, sawah, perkampungan, dengan pemandangan khas Kalimantan Barat.
 


Sempat berhenti untuk membeli rambutan yang dijual di pinggir jalan. Rp.5000 satu ikat, dan rambutannya segar dan manis!
 


Perjalanan masih berlanjut dan pengambilan gambarpun tetap berjalan.
 

Yang jelas jalanan mulus, dan cukup sepi.
 

Karena tadi sempat 2x berhenti di jalan, jam 12.30 kita baru sampai di Sungai Utik tempat kita akan menginap selama 3 hari.
 


Dan kita berkoordikasi dulu sebelum ada upacara khas Iban untuk penyambutan tamu.
 

Penaran dengan upacara penyambutan khas Iban, dan apa saja kegiatan hari pertama kami disana..

Tunggu ya..

BERSAMBUNG


Noted :

All Photo Courtesy of National Geographic Indonesia

  










Selasa, 04 September 2012

Banjarmasin, kota seribu sungai




akhirnya bisa mengunjungi Banjarmasin di Kalimantan Selatan kembali.
Kali ini bersama Dodo dari Jakarta, dan disana menjumpai kawan-kawan indoflyer PK-BDJ ada Hakim, saleh dan Raziq. Sayang sekali Indra tidak bergabung disini....

Thanks buat kawan2 PK-BDJ yang disempetin bertemu dan ikut jalan-jalan ke pasar terapung

Menjelang landing @ BDJ




Selasa, 28 Agustus 2012

Lebih pada sebuah kata, terserah!


Akhir-akhir ini aku harus menghela banyak nafas..

Nafas panjang untuk sedikit memberikan ruang bernafas di dadaku

 

Aku tak ingin mengeluh.. aku sadar aku bisa melewati sekian cerita dan drama ini

Kadang aku harus menelan ludah sendiri, sepertinya tak rela hatiku begini

 

Ini salah begitu juga yang itu tak mudah

Apa mungkin sudah sepantasnya ini yang harus ditelan dan terima, walaupun masih mentah

 

Dari awal aku sudah menjaga hati, bukan mengemis tapi aku ingin sedikit saja kamu pakai hati.

 

Aku tak sempurna, dan mungkin aku tak seperti yang kamu kira.

Aku bukan pengumbar kata, atau malah aku berniat membuyarkan asa.

 

Apa nilai tulusmu, coba aku ingin tahu.

Apa arti kesalmu, tolong hargai aku….

 

Kalau aku merindu, itu wajar karena aku menyayangmu

Wajar aku cemburu, karena aku ingin kamu untukku

 

Jujur, kamu ini mengapa.

Kamu ini siapa dan siapa mereka.

Terlalu miris kamu saat aku berusaha menepis, bahkan tak menjadi dilematis jika dari awal kamu tak menangis.

Kurang sabar, kurang sayang atau kurang pernyataan. Itu semua sudah sangat cukup.

Aku membela diriku sampai aku sampai aku harus kesakitan menahan diriku dihimpit cinta yang lain.

 

Sekarang pastinya, aku berkata

Lebih pada sebuah kata, terserah!

 

Sekarang kamu pilih siapa, kamu ikut siapa?

Siapa pedulimu siapa yang kamu mau?

 

Ya... sekali lagi. Itupun sudah aku berjanji.

 

Aku tak pernah memberikan kata ini sebelumnya ke kamu.

Namun selalu emosional dirasamu.

 

Kamu kamu begitu melulu.. mungkin semutpun akan malu

Malu sempat menjadi bagian hidupmu

 

 

Lebih pada sebuah kata, terserah!






Akhir-akhir ini aku harus menghela banyak nafas..
Nafas panjang untuk sedikit memberikan ruang bernafas di dadaku

Aku tak ingin mengeluh.. aku sadar aku bisa melewati sekian cerita dan drama ini
Kadang aku harus menelan ludah sendiri, sepertinya tak rela hatiku begini

Ini salah begitu juga yang itu tak mudah
Apa mungkin sudah sepantasnya ini yang harus ditelan dan terima, walaupun masih mentah

Dari awal aku sudah menjaga hati, bukan mengemis tapi aku ingin sedikit saja kamu pakai hati.

Aku tak sempurna, dan mungkin aku tak seperti yang kamu kira.
Aku bukan pengumbar kata, atau malah aku berniat membuyarkan asa.

Apa nilai tulusmu, coba aku ingin tahu.
Apa arti kesalmu, tolong hargai aku….

Kalau aku merindu, itu wajar karena aku menyayangmu
Wajar aku cemburu, karena aku ingin kamu untukku

Jujur, kamu ini mengapa.
Kamu ini siapa dan siapa mereka.
Terlalu miris kamu saat aku berusaha menepis, bahkan tak menjadi dilematis jika dari awal kamu tak menangis.
Kurang sabar, kurang sayang atau kurang pernyataan. Itu semua sudah sangat cukup.
Aku membela diriku sampai aku sampai aku harus kesakitan menahan diriku dihimpit cinta yang lain.

Sekarang pastinya, aku berkata
Lebih pada sebuah kata, terserah!

Sekarang kamu pilih siapa, kamu ikut siapa?
Siapa pedulimu siapa yang kamu mau?

Ya... sekali lagi. Itupun sudah aku berjanji.

Aku tak pernah memberikan kata ini sebelumnya ke kamu.
Namun selalu emosional dirasamu.

Kamu kamu begitu melulu.. mungkin semutpun akan malu
Malu sempat menjadi bagian hidupmu