Kamis, 14 Februari 2008

(aneh) menurut aku sih ini penipuan lewat telepon.. *dasar.. emangnya aku bisa digituin.. hati2 yaaa*

Disaat menjelang sore, hari ini.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore, kurang lebih.

Telp kantor berdering.. deirngan nadanya menunjukkan jika itu pangilan dari luar kantorku, bukan telp intern

 

Ups! Aku cek caller IDnya.., jadi aku bisa tahu dari mana sekiaranya telp itu berasal..

+6221398****

Oh.. mungkin dari sebuah perkantoran di sekitaran Thamrin,.

“Hallo sore,..” sapaku..

“Selamat sore, ..bisa dengan bapak Arifien””  suara diujung telepon menyambut ucapku.

“ Iya saya sendiri, darimana ini, bisa dibantu” tanyaku singkat, karena sepertinya aku belum mengenal suara diujung sana.

“Saya Indri, dari W** Card Jakarta, saya mau tanya pak, saat ini masih sebagai pengguna aktif kartu kredit Visa atau Mastercard?” tanyanya selanjutnya.

“Iya, masih… emang kenapa mbak” tanya agak mulai perhatian dengan topik pembicaraan.

“Saya dari W** Card sebagai perusahaan rekanan data dari Visa dan Mastercard akan menawarkan W** Card, dengan berbagai macam keuntungan pak” awal dia memberi penjelasan

“Trus…” kataku singkat mengharap cerita diujung telepon biar berlalu dulu.

“Dengan memiliki kartu ini bapak akan mendapatkan diskon di berbagai macam tempat. Seperti di restoran, kafe, rumahsakit, tempat pembelanjaan, hotel dan lain-lain diskonnya sampai 50%, dan karena ini masih ada promo. Jadi bapak nanti akan mendapatkan gratis tiket pesawat dari Jakarta” katanya berusaha menjelaskan.

 

“Ini apaan sih kartunya, kok baru dengar saya, seperti apa kartunya. Tapi anda mendapatkan nomer telepon saya dari mana ya?” kataku mulai curiga, dengan nada bicara tinggi.

 

“Kita mendapatkan data dari database Visa dan Mastercard pak” jawabnya dengan nada bicara sudah merasa takut (sepertinya).

 

“Oya? Wah… nama sebesar Visa dan Mastercard ternyata dengan mudah menyebarkan nama dan telpon nasabahnya ternyata” jawabku lagi.

 

“Ini dengan bapak Arifien di PT Si***ns Indonesia kan” kata dia meyakinkan.

 

“Iya ini saya Arifien, sebentar.. anda mendapatkan data saya dari mana dulu” kataku agak mulai marah.

 

“Ini data dari database pak” kata dia singkat.

 

“Sebentar.. Visa dan Mastercard itu banyak bank yang menggunakan lisence nya yak, anda pastinya tahu saya pemegang kartu dari bank mana dulu” ujarku mulai mencurigai suara diujung sana.

 

“Saya tidak tahu pastinya bapak di bank mana kartu kreditnya, yang jelas. Saya mendapatkan data dari banking 18, disana datanya dari berbagai maam bank” katanya berusaha menjelaskan lagi, entah benar atau tidak aku terasa mulai agak marah dengan sekian statemen dia yang mulai mencurigakan.

 

“Ok.. trus mau anda sekarang apa..? Jelas kan lagi kartu itu” tanyaku dengan berharap aku ingin mengetahu lebih lanjut seluk beluknya lebih dalam.

 

“Iya pak, kalau bapak berminat hari ini akan kita kirimkan kartunya oleh kurir kita. Kartu ini sebagai kartu diskon dan selama promo ini bapak akan mendapatkan tiket pesawat ke luar kota dari Jakarta” katanya dengan logat kurang professional.

 

“Sebentar…! Tiket pesawat dari Jakarta keluar kota? Kemana nih maksudnya? Luar kota itu banyak mbak..” jawabku menyela.

 

“Ya keluar kota pak, seperti ke Bandung…. Atau..”

Belum sempat dia meneruskan kata-katanya.. aku potong dengan ..

 

“Ke Bandung kok naik pesawat mbak… aneh..” kataku..

“Emang bekerja sama dengan maskapai mana mbak,..?” kataku lagi..

 

“Ya nanti bapak terserah mau memakai maskapai mana, apa saja” jawabnya..

 

Aku benar-benar sudah curiga dengan hal ini, tapi aku iseng-iseng melanjutkan investigasiku kali ini.

 

“Trus nanti gimana selanjutnya…?” tanyaku pengen tahy

“Nanti kurir kita hari ini akan mengantarkan kartunya pak.. “ jawabnya dengan agak ketakutan.

 

“So… pasti ujung2nya saya harus bayar kan..?” kataku sedikit menghakimi.

“Selama setahun iurannya 1.899.000 ribu pak, tapi bisa diangsur selama 10 kali, jadi pembayaran pertama sekitar 180ribuan”ujarnya lagi.

 

“Ow… trus nanti saya bayarnya gimana?” tanyaku melajutkan investigasi.

 

“Nanti akan kita masukkan ke tagihan kartu kredit bapak” katanya…

 

“O…. begini caranya, jadi anda pasti sudah tahu dong nomer kartu kredit saya. Gimana sih.. anda dari tadi berbelit-belit. Maunya apa..??” emosiku akhirnya lepas juga lewat suara.

 

“Sebentar… ini perusahaan anda namanya apa..?? berkantor dimana dan nomer teleponnya berapa” tanya memberikan tes pertanyaan..

 

“Saya dari W** Card pak” jawabnya.

“Iya saya tahu, tapi kan anda punya nama perusahaan kan..?? Di mana alamatnya?” kataku keras.

 

“Di jalan Sarinah Thamrin” jawabnya pelan dengan logat yang kurang fasih berbahasa Indonesia.

 

“Heh… jalan Sarinah Thamrin itu tidak ada ya.., Sarinah ya di sarinah jalan Thamrin ya jalan Thamrin..” kataku lagi

 

“Ini di jalan Thamrin pak, di Menara Eks****if lantai 1*..” kata dia akhirnya mengaku..

 

“Oke.. saya catat.. nama anda siapa dan nomer teleponnya berapa?” kataku berusaha mengakhiri pembicaraan ini.

 

“Saya Indri pak nomer telp 398****” kata dia akhirnya menurut ke aku.

 

“Baik pak, mungkin nanti atasan saya langsung yang akan berbicara lebih lanjut” kata dia sambil berusaha menyambungkan pesawatnya ke orang lain.

 

Beberapa detik tidak ada suara.

“Klik!!!” akhirnya telpon aku taruh..

 

Beberapa saat kemudian. Telepon di mejaku berdering lagi. Aku lihat nomer pemanggail seperti yang tadi.

“Iya siang “ sapaku.

“Dengan bapak Arifien, saya dari bagian Finance atasannya Indri yang tadi berbicara dengan bapak..” kata diujung.

 

“Iya, bisa saya bantu” ujarku kemudian

 

“Gimana pak dengan penjelasan staf saya tadi, bapak sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan?” tanya dengan sedikit ramah.

 

“Belum, saya belum mengerti, dari tadi berbelit trus” kataku berusaha memberikan klarifikasi.

 

“Dibagian mana yang belum jelas pak?” kata dia ingin membantu menjelaskan (mungkin).

 

“Sudah deh bu, saya tidak ada waktu melayani kayak ginian. Makasih” kataku akhirnya menutup telepon dengan sepihak.

 

Ups..! baru bisa menarik nafas lega..

 

Dalam hitungan detik…

Telepon berering lagi, dari nomer yang sama…

Aku tekan tombol reject.

 

..dan..

 

Berdering lagi…

Aku tekan tombol reject lagi..

 

So..

 

Berdering lagi..

Aku tekan tombol itu kembali..

 

 

“hah!!! Gila ini orang.. ngebet mulu… apa sih maunya, udah jelas-jelas gak jelas begitu.. memangnya aku tertarik dengan begituan..”

“Malas…!!!” kataku dalam hati akhirnya.

 

Dan akhirnya telepon itu aku gunakan saja untuk menelepon temenku, dari pada diganggu oleh deringan gak penting dari orang yang gak jelas mengharap apaan itu.

 

Dududududud…