Senin, 10 Desember 2012

BlackTrail Dayak Iban, Hari 3

Hari ke-3 

Pagi itu setelah sarapan pagi kami akan mencari durian (lagi) di hutan, tapi dengan cara yang berbeda, yaitu akan off-road. Seru kan..
Ini mobilnya sudah siap. Dan pengambilan gambarpun dilakukan beberapa kali disini, harus diulang kembali .. *cuaca panas sekali pagi itu, terik* 




Jarak dari rumah betang kami menginap menuju tempat mencari durian sekitar 5km, terjadi keseruan disini, karena mobil yang kami tumpangi sempat masuk terjebak di dalam lumpur. Kami harus dan rela berjuang agar mobil bisa keluar dari jebakan tersebut. 
Sayang sekali foto tidak ada ya, karena saya tidak sempat. Nanti detailnya bisa liat di tv saja, hehehe.. karena kami di syut saat itu sampe beberapa kali scene. 



 Dan singkat cerita, kami mendapatkan durian ini. 


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, kami harus segera kembali dan packing tas. 


Sepatu, kaos kaki dan celana saya masih basah karena habis bermain lumpur tadi. 



Dan kami harus berpamitan kepada semua warga di Rumah Betang Sungai Utik ini. 
Sedih meninggalkan mereka, karena hanya 2 malam saja kami bermalam disini. 
Mereka sangat baik sekali dan ramah-ramah. 



Kemana kami akan menuju siang itu? 
Jam 12 lewat kami menuju ke Rumah Betang tertua dan terpanjang, yaitu di Dayak Tamambaloh tepatnya di Sungai Uluk Palin. Ditempuh sekitar 1,5jam. 



Sampai disana, kita disambut oleh tarian penyambutan ini. 



Langsung kita menaiki rumah betang yang cukup tinggi sekitar 6 meter, dengan panjang rumah adalah 204 meter, jumlah bilik 53. Dibangun sejak tahun 1938. 
Ini sambutan upacara adatnya. 



\


Kami dipersilakan duduk. Sambil dihidangkan makanan kecil dan minuman. 



Dan saatnya makan siang. Kami masing2 dihidangkan di depan sajian ini, ini menurut mereka sajian khusus untuk tamu yang dihormati. Yaitu nampan yang agak kakinya sekitar 25cm. 



Ini adalah menu sajian makan siang nya. Dan, nasinya banyak sekali…  saya hanya mampu menghabiskan separu (itu udah banyak kan..) 




Setelah itu kami beramah tamah dengan tetua adat Dayak Tamambaloh. 



Dan ini di dekat gelas minuman, bukan kayu atau tongkat tapi makanan. 
Itu dari batang bambu dan berisi ketan yang sudah dimasak dan dibakar. Karena kami sudah kenyang, jadinya ini kami bawa pulang (sampai ke Jakarta malah). 



Setelah itu, kami dihibur oleh tarian-tarian khas Dayak Tamambaloh. 


Dan saya bersama Nico berjalan sampai ujung melihat rumah betang uluk lain ini. 






Jam 3.30 sore kami meninggalkan rumah betang ini. Dan kami melanjutkan perjalanan menuju ke Dayak Taman di Rumah Betang Bali Gundi. Perjalanan ditempuh dengan mobil sekitar 45menit. 


Dan kita telah sampai. 



Disambut upacara adat kembali. 







Kenapa kami menjelang malam kesini? Karena tempat ini mendekati kota Putussibau, jadinya esok pagi kami lebih muda menuju ke Bandara Pangsuma, karena esok paginya kami harus kembali ke Pontianak dilanjut ke Jakarta. 

Sesudah upacara adat selesai, kami duduk rehat. Dan kecapekan. 



Setelah itu pembagian kamar. Seperti malam sebelumnya. Kami dibagi2 dan ikut menginap di rumah warga disana. 

Singkat cerita malamnya kami ikut upacara adat Mamasi. So complicated upacara adatnya. 
Kami harus memakai baju khas Dayak Taman. Mengikuti prosesi detail upacaranya. Dan menari mengelilingi rumah betang bali gundi ini. 
*detailnya bisa dilihat di TV saja ya nanti..* 

Pagi harinya setelah sarapan pagi dan packing. Kami berencana menuju ke Bandara Pangsuma di Putussibau, Kami akan menuju ke Pontianak dengan Kalstar lagi. 
Sebelumnya persiapan syuting closing acara. 


Dan ini last scene buat Nicolas. 


Kamipun menuju ke bandara jam 8.30 pagi. 




Sekitar 30menit kami sudah sampai di Bandara Pangsuma siap menuju ke Pontianak. 



Bagaimana perjalanan kembali kami dari Putussibau ke Pontianak dan Jakarta. 
BERSAMBUNG 

All Photo Courtesy of National Geographic Indonesia 
#BlackTrail 


Tidak ada komentar: