Kamis, 13 Desember 2012

Cerita gw dibalik BlackTrail Dayak Iban (hari ke 2-4, terakhir)


Rabu pagi, 28 November 2012.
Hari ke 2 gw mengikuti Blacktrail Dayak Iban kali ini. Alhamdulilah bisa tidur nyenyak malam harinya, ditemani suara hujan membuat nyaman tidurnya, walaupun beralasa tikar seadanya.

Pagi itu, ada sesuatu membuat ramai di teras luar rumah betang.
Salah satu penghuni rumah betang menemukan binatang primata yaitu Tarsius dari hutan.  Dan kami ramai-ramai menontonnya dan memotretnya.
Sayang sekali binatang langka itu keburu lemas dan akhirnya mati L

Pagi itu kita berencana akan susur sungai.
Ya menyusuri sungai dengan menggunakan sampan kecil, yang berkapasitas 8 orang.

Jam 9 pagi kami berkumpul di pinggir sungai utik dan bersiap melaksanakan kegiatan itu, diawali dengan beberapa pengambilan gambar seperti biasa untuk keperluan acara Kompas TV.
Kami ber 5 tim dari BlackTrail Dayak Iban dalam satu perahu, ditemani 2 orang penduduk Iban yang bertugas sebagai operator mesin dan penunjuk depan perahu.

Arus sungai pagi itu cukup deras, maklum malam harinya baru saja hujan. Tapi justru menambah keseruan aktivitas rasanya.

Kami berlima juga dibelai kamera video kecil yg dikaitkan di tongkat untuk merekam aksi kami selama di perjalanan.
Dan beberapa dari kami suka sekali eksis di depan kamera itu dengan sesekali berlagak seperti host sebuah acara. Hahahaha J

Perjalanan dimulai, total perahu yang kita gunakan adalah 4 perahu.
1 perahu oleh Mas Cahyo dan Nico serta tim Kompas TV.
1 perahu oleh tim kameraman
1 perahu lagi panitia dan kameraman lainnya

Perjalanan cukup menyenangkan, udara segar, dan air jernih dan dingin.
Kami melewati dan memasuki hutan. Dengan sekian jenis tanaman dan pepohonan.

Melewati bebera pohon tumbang juga L
Mendengar suara burung-burung berkicau yang seolah-olah menyambut kami memasuki hutan itu.
Menyenangkan
Sesekali kita di perahu juga bergurau, tertawa dan berceloteh. Apalagi saat ada kamera menyorot kami. Hahahaha J

Saat melewati sungai yang dangkal, kami harus turun dari perahu dan mendorong perahu itu, seru sekali sampai baju kita masak semua J
Ini salah satu moment yang menyenangkan.

Bahkan sandal Nico sempat hanyut dengan air saat turun dari perahu, untung bisa ditemukan pagi sandalnya oleh salah satu penduduk setelah beberapa saat dicari.

1,5 jam perjalanan tak berasa. Entah kita sudah berada di titik sebelah mana.
Kita berhenti di sebuah pertigaan sungai.
Berhenti disana sekitar 30 menit. Kami rehat sejenak dan kami foto bersama juga.
Foto resmi BlackTrail Dayak Iban juga kami lakukan disini.
Yak kami disuruh loncat dan loncat di sungai ya, tapi gak papa airnya bersih kok, dingin sih iya, secara juga di dalam hutan.

Selepas itu, kamipun melanjutkan perjalanan kembali.
Tidak lama setelah kami berperahu lagi, kami semua berhenti dan menaiki bukit-bukit serta trecking menaiki bukit, fiuh...
Buat yang suka merokok dan jarang berolahraga pasti berasa deh ya rasanya.. huehuehue... *nyadar*
Kami dijelaskan beberapa jenis pepohonan khas di hutan borneo dan kami benar-benar takjub akan adanya hutan tersebut.
Benar-benar terjaga kelestariannya lho,... bahkan kami menemukan berkali-kali pohon yang memang berusia puluhan tahun, karena gedhe banget ukuran batang pohonnya.
Jenis pepohonaannya pun bermacam-macam.

So, berkat ketekunan mempertahan kelestarian hutan, Lembaga Ekolabel Indonesia tahun 2008 memberikan setifikat ekolabel yaitu pengelolaan hutan lestari terhadap hutan adat di Sungai Utik, dan Sungai Utik adalah desa adat pertama yang menerima sertifikat ini.
Keren!

Dan pantas mendapat sebutan „The Last Standing Forest in Borneo

Tak lupa beberapa foto dan scene cerita diambil di tengah hutan ini.

Setelah 1 jam trecking ini, kami menaiki perahu kembali untuk menuju ke ladang.
Ya, waktu sudah memasuki jam 1 siang, waktunya makan siang...

Tek lama setelah itu kami sampai di ladang.
Eits, jangan salah ya… kami tak langsung makan siang..
Lebih tepatnya kita disambut oleh buah durian!!

Oalah.. durian..?? iya durian!
Gak tanggung-tanggung kami disuguhi 4 macam durian yang semuanya super lezat!
Yak, durian itu semuanya jatuh dari pohonya langsung di hutan.
4 macam durian itu adalah
Durian Kuning yang lezat dan lembut dagingnya
Durian Putih yang creamy banget rasanya namun enak
Durian oranye yang  yummy seperti selai kacang
Durian Merah yang legit di mulut seperti mix rasa sirsak, durian dan mangga.

Dijamin gak bikin pusing baunya, entah kenapa.. karena masih segar buahnya, jadinya mungkin belum kadar alkoholnya masih sedikit.
Gw yang awalnya ga terlalu suka durian, disini jadi maniak dan kalap durian.
Nicholas apalagi, kalap juga dengan durian kuningnya…
Mas Cahyo lebih ganas lagi... hahahahaha

Baru setelah puas makan durian, kami memasuki rumah panggung ditengah ladang.
Kami disambut masuk, dan disuguhi makanan ringan dulu di dalam rumah dan dilanjutkan dengan makan siang dengan menu seadanya, yaitu nasi dengan lauk sayuran.

Yang pasti, mereka memasak sendiri makanan itu dirumah panggung di tengah ladang itu.
Dengan ukuran rumah 4x6 meter ruangan itu sekalian dapur dan juga ruang rehat serta tempat makan.
Seru dan lezat seperti biasa sajian makanan siang itu..

Setelah rehat sejenak dari makan siang.
Kami tim 5 BlackTrail Dayak Iban dibagi 2 kelompok.
Gw saat itu dengan Tozan. Dan grup satunya lagi Yogy, Aang dan Detri.

Gw ama Tozan mendapat tugas untuk mencari sayuran di tengah hutan dengan warga.
Kami harus berjuang menyusuri sungai lagi masuk hutan untuk mencari sayur rebung, daun pakis dan juga daun singkong.
Luar biasa perjuangan mereka untuk mencari sayuran ya. Dan seru sekali penglaman kali ini.

Dan tim satunya lagi membantu warga untuk berladang dan mencari kayu dihutan.

Tak lupa masing2 tim kami juga ditemani oleh tim kameraman karena juga untuk kebutuhan syuting acara.

Tak terasa waktu sudah jam 4 sore.

Kami bersiap menuju rumah betang kembali. Kali ini cukup cepat kami sampai, hanya 30 menit sudah sampai di pemberhentian perahu saat berangkat tadi. Maklum kami mengikuti arus saat pulang kembali ini.

Selepas itu, jangan salah kami langsung beramai-ramai mandi di sungai lho.
Hahahah.. gw pun juga mengambil aksi naik ke pohon dan loncat dari dahan pohon ke sungai..
Semoga scene ini masuk ke acara ya nanti, lhat deh aksi gw loncat dari pohon .. J

Menjelang senja kami menuju rumah betang, bersih-bersih badan.
Dan sore itu melihat salahs atu warga menyiapkan tinta untuk tato. Ya tato.
Seperti yang kita kenal, Dayak terkenal akan tato nya juga
Dan di Dayak Iban yang terkenal motif tatonya salah satunya adalah motif bunga terung.

Saat itu Nicholas Saputra memberikan tantangan ke kami tim 5, jika ada yang mau di tato di badan dengan motif tersebut kami akan mendapatkan wildcard untuk langsung bisa ikut ke BlackTrail Raja Ampat.

Ah, sayang sekali tidak ada yang mau mengambil tantangan ini.
Gw pun juga tidak berani mengambil tantangan ini.. L

Setelah itu gw bergabung dengan warga yang sedang mengobrol dan bercengkerama menjelang senja.
Berkumpul di teras luar rumah betang sambil menkmati air enau yang baru saja diambil dari pohonnya.
Segar... gw sampai hari 2 gelas..

Hahahaha...

Sudah menggelap, kami memasuki rumah betang kembali. Malam itu kami diundang ke rumah Pak Kades di salah satu bilik di rumah betang,
Kami berkumpul disana, disuguhi minuman khas Iban sambil beramah tamah,
Baru setelah itu kami makan malam di bilik masing-masing.

Setelah kami makan, kami kembali ke teras dalam di rumah betang dan disana kami bisa melihat beberapa ibu-ibu dan nenek-nenek sedang asyik menenun.
Luar biasa. Mereka menggunakan bahan alami dari hutan untuk menenun itu semua.
Juga terdapat bapak-bapak yang menjelaskan mengenai senjata khas Iban.

Memasuki jam 10 malam, dan itu adalah malam terkahir kami Sungai Utik di Dayak Iban. Kami bersama membuat malam kemeriahan, yang sebelumnya kami saling memebrikan kata-kata kesan dan pesan dari peserta, panitia dan warga juga.
Dilanjutkan oleh kemeriahan kami dalam memberikan hiburan.
Berpantun, bernyanyi, menari dan berjoget bersama. Seru sekali.
Meriah. Dan kami merasa seperti saudara serumah.

Karena badan gw sudah merasa capek dan ngantuk, gw hanya mampu bertahan sampai jam 12 malam, trus gw kembali ke bilik. Dan sepertinya acara itu masih berlanjut sampai jam 2 pagi.
Fiuh..!

Hari ke 3 BlackTrail Dayak Iban.

Jam 9 pagi kami baru berkumpul lagi itu, maklum beberapa dari kami telat tidur sehingga kami cukup siang untuk berkumpul bersama.
Apa caranya pagi itu…
Offroad! Yeah… untuk apa?? Yak, untuk mencari durian di hutan!

Yihaa..!

Setelah kami bersiap dan take kamera di depan rumah betang kami berangkat menuju ke hutan. Dengan menggunakan mobil khusus dari Teroka Kompas TV.

Kami memasuki hutan, dengan jalanan tanah. Dan mobil kamipun terjebak di lubang yang berlumpur.
Kami semua harus turun dari mobil dan berjuang menarik mobil dengan tapi, menarik bersama dan kami semua bersimbah lumpur juga kakinya. Hahaha..
Seru sekali dan luar biasanya perjuangan kita kali itu.

Memasuki hutan dan gw pun memakai tempat khusus yang dipakai dipunggung untuk tempat durian itu.
Dan kami akhirnya mendapatkan duriannya..
Yeaaahh!!

Setelah itu kami menikmati durian itu bersama-sama dan kembali ke rumah betang.

Sudah jam 12 siang. Gw pun beberes tas, membersihkan sepatu dan juga berpamitan kepada warga di rumah betang Sungai Utik.

Ya kami semua siang itu akan meninggalkan Sungai Utik dan kami harus menuju ke tempat selanjutnya yaitu Rumah Betang di Sungai Uluk Palin di Dayak Tamambaloh.

Perjalanan ditempuh dalam waktu 1,5jam.
Kami sampai disana dan disambut meriah dengan upacara penyambutan.

Sebagai informasi rumah betang di Dayak Tamambaloh ini adalah rumah betang tertua dan terpanjang.
Dibangun pada tahun 1938 dengan panjang 204meter. Dan tingginya dalah 6 -7meter

Seru sekali upacara penyambutan kami siang itu, dan kamipun setelah itu makan siang special di rumah betang Dayak Tamambaloh ini.
Porsi makan siangnya, luar biasa banyaknya.. L sampai gw pun ga sanggup menghabiskan semuanya, hehehe.. maaf..

Setelah makan siang, kami beramah tamah dengan warga setempat dan dihibur dengan tarian dan nyanyin.

Gw pun bersama Nicholas Saputra masih sempat jalan-jalan melihat tras dalam rumah betang ini.
Memang unik dan terlihat lebih berumur daripada rumah betang di Sungai Utik.

Jam 4 sore, kami berpamitan dari Rumah Betak Sungai Uluk Palin.
Sore itu kami semua harus melanjutkan perjalanan kembali.

Menuju kemana ya kira-kira?

Karena besok pagi kami harus menuju ke Bandara untuk kembali ke Jakarta via Pontianak.

Panitia membuat rencana, malam harinya kami menginap di Rumah Betang Bali Gundi di Dayak Taman.
Lokasinya mendekati kota Putussibau, ya bsia dikatakan akhirnya tempat ini memang lebih modern.
Listrik udah masuk, signal telepon cukup bagus.
Sore jam 5 kami semua baru sampai.
Dan tentu saja kami harus melewati upacara adat kembali ya. Hehehe…

Setelah kami bersantai sore, pembagian kamar di masing-masing bilik. Malam harinya semua tim 5 dan beberapa dari panitia harus mengikuti upacara adat mamasi khas Dayak Taman.
Upacara adat ini adalah upacara adapt pemberian gelar kehormatan.
Dan kami harus memakai baju dan topi khas Dayak Taman.

Kami masing2 masing berpasangan dengan perempuan dari dayak iban dan duduk berhadapan.
Prosesi diawali dengan memasang gelang tangan dari kami dan pasangan, lalu ditukar kembali.
Selanjutnya memasang ikat kepala dari kami dan pasangan dan ditukar kembali.

Selanjutnya adalah meminum separuh isi gelas dan berbagi dengan pasangan.
Isi gelas ini adalah 8 macam jenis minuman, dari air gula, air garam sampai minyak sayur. L

Setelah itu kami harus menari berkeliling di teras dalam rumah betang.
Gw yang ga jag menari, mau ga mau harus mengikuti gaya menari khas Dayak Taman.
Heheheh J

Selesai upacara adat mamasi kami mendapat banyak sekali bingkisan yang harus kami bawa dan kami makan.
Ada beras, ketan, tepung sagu, kue ketan, kue matahari, minuman khas, air gula, dan garam dapur. Yang dibungkus dengan kain berwarna kuning.
Banyak sekali ya..

Badan gw sudah capek, letih, dan setelah berkumpul dengan warga setempat, gw pun jam 11.30 malam beranjak ke tempat tidur.

Kebetulan kamar tidur yang gw tempati malam itu berada di lantai 2 salah satu bilik di rumah betang itu, dan langsung beratapnya genting.
Cukup unik rumahnya.

Hari ke 4

Pagi harinya, gw termasuk yang berada di ruang makan pertama kali pagi itu, hahaha..
Tapi Nicho ternyata lebih dulu dari gw.
Menu sarapan pagi kali itu adalah naso goreng plus telur dadar.
Enak...! gw dan Nicho sampai nambah porsi lagi.

Menjelang jam 8 pagi, kami semua harus bersiap menuju ke bandara Pangsuma di Outussibua, karen ajam 9.40 kami harus terbang menuju ke Pontianak dengan pesawat Kalstar.
Setelah berpamitan dan kami semua dengan 4 mobil menuju ke bandara.
Cukup 30 menit kami sampai di bandara, check in dan menunggu pesawat kami ke Pontianak.

Dan pesawat kami delay 2 jam.

Baiklah, kami dengan sabar menungu dan mengobrol dengan tim dari Kompas TV.

Jam 11.40 kami terbang ke Pontianak, alhamdulilah lancar dan jam 12.40 kami sampai mendarat mulus di Bandara Supadio di Pontianak.

Masih ada waktu untuk makan siang sebelum jam 15.15 penerbangan kami ke Jakarta.
Kita isi dengan makan siang di resto dekat dengan bandara.

Pesawat kami ke Jakarta tepat waktu jam 15.15 kami semua terbang ke Jakarta dengan Garuda Indonesia.

Dan jam 16.45 kami sampai di Bandara Soekarno Hatta Jakarta disambut dengan mengdung gelap bergelaut di langit L
Dan hari itu hari Jumat, gelap mendung bersiap hujan. Dan pastinya, bersiap macet...

Kami pulang kah..?
Tentu tidak... hehehe..
Kami tim 5 bersama dengan Mas Dhani dari National Geographic Indonesia menuju ke Sudi Kompas TV di Palmerah. Kami malam itu harus melakukan syuting masing-masing perserta BlackTrail Dayak Iban untuk kepentingan testimonial untuk tayangan Teroka serta promo tayangan BlackTrail.
Macet? Iya.. jam 19.30 kami baru sampai di Kompas TV dan setelah makan malam di kantin baru jam 20.00 malam kami mulai syutingnya.

Alhamdulilah lancar, dan jam 21.30 selesai syuting kali ini.
Kami pun harus berpisah pulang kembali ke rumah masing-masing.

Sedih, harus berpisah dengan kawan-kawan dari BlackTrail Dayak Iban ini.
Walaupun perjalanan kami singkat, tapi sangat berkesan dan meninggalkan banyak sekali kenangan manis, seru dan mengharu biru.
Banyak sekali sekali pejalaran yang gw ambil dari perjalanan BlackTrail kali ini.
Bagaimana sebuah alam memberikan hidup bagi manusia, bagaimana mansuai harus bersahabat dengan alam.
Sebuah arti kekeluargaan dan indahnya hidup dengan kearifan antar sesama.

Bertemu dengan sekian kawan dan saudara baru, dengan masyarakat Dayak Iban, Dayak Tamambaloh dan Dayak Taman yang luar biasa ramahnya.
Bertemu dengan tim 5 BlackTrail Dayak Iban, serta panitia dari Loreal Men Expert, National Geographic Indonesia dan Kompas TV dengan berjuta pengalaman menarik untuk dibagi.

Gw bangga dan senang bisa menjadi bagian dari acara BlackTrail Dayak Iban kali ini.
Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada
National Geographic Indonesia, dan tim nya Mas Dhani, Mas Vitra, dan awal redaksinya semua.
L’Oreal Men Expert, Mas Yos dan semua tim yang lain juga.
Kompas TV dan kru Teroka. Mas Cahyo, Mas Izul, Mas Lingga, Mas Kikit, Mbak Riri, Mas Agung. Dan semuanya tim produser dan dibalakang layar. Makasih sudah diberik kesempatan.
Nicholas Saputra, yang menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.
Tim BlackTrail Dayak Iban :
Tozan Mimba dari Bali, yang funny, rame dan ekspresif.
Yogy Satrio dari Jakarta, yang cool dan kamera face J
Detri dari Bandung, yang semangat dan luar biasa pengalaman jalan-jalannya.
Himawan dari Purwokerto, yang hobi moto dan rela motoin gw juga.
Kalian semua cool abis dah!

Yak lupa buat keluarga besar dan warga Dayak Iban, Dayak Tamambaloh dan Dayak Taman yang tak bisa kami sebutkan satu persatu.
Terima kasih luar biasa atas kesempatan, keramahan serta kearifan dalam menyambut kami, menerima kami tinggal disana, makanan yang enak-enak dan juga pengalaman yang bisa kami ambil selama kami tinggal disana.
Semoga hutan dan budaya tetap lestari sampai ke anak cucu nantinya. Amin..

Dan terima kasih ke semuanya yang telah mendukung program BlackTrail Dayak Iban ini berjalan dengan lancar.


Photo by Detri
Courtesy of National Geographic Indonesia
(Tozan, Yogy, Mas Dhani (Natgeo), Mas Cahyo (KompasTV), Himawan, Detri, Gw)


Tidak ada komentar: