Minggu, 04 November 2007

(perdebatan) gak penting..bahasan karir temanku, so..? aku ga bisa akhirnya,..(!)

“Gw ga bisa motoin dia Ndik..” tegas ku sekali lagi siang itu.

“Lho kenapa..? dia kan punya jiwa seni dan fotogenic, kamu kan juga sudah melihat foto-fotonya, dan sudah beberapa kali main sinetron” ujar Andik kembali meyakinkanku.

 

“Lagian dia bego banget sih, sudah kerja enak di BUMN terkenal di Jakarta, eh malah keluar hanya demi karir di entertaint yang belum jelas..” aku kembali lagi memberikan komentar

 

“Ya dia udah ga bisa bagi waktu aja kali” ujar Andik berusaha membela..

“Halah… kalo dia terkenal sih ya aku wajar, kan dia hanya figuran saja, an aku pikir dia ga ada spesialnya sama sekali, trus akupun juga sama sekali ga pernah lihat dia di tv” kembali aku melempar komentar pedasku lagi

 

“So, kamu mau foto dia gak, dia pengen kamu fotoin dia buat portfolio dia” kali ini Andik serius bicaranya.

“Gak bisa Ndik, dia ga punya karakter di kamera dan aku lihat foto2 dia style dia aku ga suka, sorry ya…” jawabku dengan merendaj

 

“Ya udah, ntar aku kasih tahu dia kalo kamu lagi sibuk dan lagi gak bisa motoin” akhirnya Andik menerima keputusanku ini.

 

Pembicaraan ini berlangsung setelah aku dan Andik bertemu dengan Udin, temen kuliah dulu di Malang, dan Andik adalah teman kuliahku juga dan kini sekantor.

Yang kini resign dari sebuah BUMN terkenal demi mengejar karir di di entertaint.

Awalnya aku agak kaget dengan keputusan dia, sayang sekali pikirku..

 

Dan Andik tahu aku suka foto, dan dia bilang ke Udin kalo aku bisa motoin orang.

Singkat cerita Udin akhirnya minta di fotoin.

Aku sih belum mutusin mau atau tidak.

“Kita maen ke kostan Udin aja dulu ya Ndik, biar aku sekalian mantepin bisa gak aku explore karatkter dia” ujarku saat itu ke Andik.

 

Dan akhirnya aku dan Andik main ke kostnya Udin.

Ehm… deretan piala terpampang disana. Dan beberapa foto dipajang pula.

Gila, narcis juga nih orang”

 

Aku agak terhenyak melihat salah satu piala sepertinya aku familiar dengan piala itu.

Ups, tertulis disana Pemeran Pembantu Pria Terbaik 2006.

Ah… tapi yang tertulis selanjutnya di bawahnya bukan ajang penganugrahan yang terkenal, melainkan hanya intern sebuah PH yang tidak terkenal juga.

Hah..! sotoy..!!

Aneh..!

Dan aku ga ingat lagi apa aja penghargaan tertulis disana.

 

Trus aku dikasih sebuah postcard foto dia yang terdapat biodata dia.

Ups..

“oh.. nama lo berubah ya… bukan Udin lagi” aku nyeplos saja begitu aku lihat nama tertulis disitu yang beda dengan aslinya.

Kok, tinggi badan tertulis disana 170cm? hahahahah, padahal aku lihat dia ga segitu, pendek dan kecil… sutralah…

 

Selanjutnya aku mengamati foto album dia untuk sedikit melihat gaya-gaya dia di depan kamera.

“ah.. aku ga suka gaya dia, aneh..,lucu dan ngebosenin” ujarku dalam hati.

 

“aku sudah dapat dialog lo Fin di film horror akan syuting bulan depan, walaupun sedikit sih” pamer Udin ke aku.

“Oya, sutradaranya sapa” kataku…

Dan Udin kali ini menjawab dengan nama orang yang aku juga belum familiar dengan nama sutradara itu.

“o.. Ya bagus lah” kataku akhirnya.

 

Gak begitu lama lagi. Aku dan Andik akhirnya pamit, karena Andik mo ke bengkel siang itu.

“Ntar gw kabarin Din, kalo aku ada waktu bisa moto atau tidak” ujarku terakhir sebelum aku meninggalkan kostnya.

 

 

Dalam perjalanan pulang itulah, akhirnya perdebatanku dengan Andik mengenai sosok Udin terjadi.

“Sorry Ndik, aku ga butuh model terkenal buat aku fotoin kok, tapi aku ngelhat dia udah aneh aja, ga suka aku dengan beberapa gaya dia di foto” sekali lagi aku memberikan pendapat.

“Kok dia bisa masuk ke dunia sinetron dan film ya Ndik,..? Ah sudahlah.. lagian aku juga ga pernah tahu dia di tipi” kali ini aku berbicara sendiri, Andik hanya senyum saja.

“Ya semoga dia bisa sukses Fin” kata Andik singkat

“Iya lah, rugi dong resign dari kantor itu kalo gak nambah sukses” ujarku menutupi pembicaraan sore itu.