Kamis, 16 Oktober 2008

Laskar Pelangi - yang seharusnya bisa membuat kita menghayati, apa arti kita di alam ini


Laskar Pelangi…

Tapi yang saya mau bahas disini hanyalah opiniku dari filmnya, bukan bukunya..
Entah saya sangat belum tertarik dengan buku Laskar Pelangi.
Walaupun sekian teman rela meminjamkan atau bahkan membelikan saya buku Laskar Pelangi… tapi selalu aku tolak..

Jawabanku cukup, “Maaf, saya masih belum ingin baca buku itu dulu ya…”

Ya.. semenjak di pertengahan 2008 saya sudah mendengar kabar jika memang film ini sedang diproduksi oleh Miles Production.
Dan saya pun juga tahu jika Cut Mini bakal menjadi pemeran Utama ditambah beberapa anak asli Belitong sebagai anak-anak laskar pelangi-nya


Saat itu saya menonton film Laskar Pelangi di Blitz Megaplex di Grand Indonesia di Auditorium 1, yang katanya Presiden SBY menonton film Laskar Pelangi di auditorium yang sama juga. Tapi duluan saya sepertinya.
Saya menonton film ini tanggal 27 September 2008. Tidak mengantri tiket, dan mendapatkan tempat duduk favorirt saya tentunya. Dan sekali lagi tidak ramai, tidak berjubel dan hanya 40% saja isi auditorium yang besar itu terisi.
Walaupun agak terganggu dengan sekian celoteh-celoteh anak kecil di dalam saat film diputar, hm.. its okey… Tapi.. bukan proses saya menonton film ini yang akan saya bahas.
Tetapi bagaimana saya bisa menikmati film ini dan pendapat saya tentang film ini.


Oops..!
Jujur, ini film yang menarik. Dengan visualisasi yang cukup apik, tata kamera yang pas serta pemilihan kata dari rentetan kalimat skenario yang cukup simple.
Bagaimana kamera bisa menangkap spot terbaik dari anak-anak, dari alam yang natural dan dari sekian lingkungan film yang sederhana.
Ehm.. walaupun kadang ada plot yang sekian bagian agak tersendat yang membosankan..
Namun saya yakin Cut Mini sudah total disini dan berhasil memberikan besutan kisah dan pendalaman karakter yang begitu bagus!

Ada juga beberapa scene yang akhirnya harus berulang kembali diceritakan. So.. membosankan…
Dan kenapa harus ada Tora Sudiro..??????
Secara general…
Riri Riza berhasil membuat sekian kisah dan menariknya anak-anak dan menyatukan dengan konsep novel dari novelisnya dengan baik.
Dan satu lagi.. piñata busana… pas..!! bener-bener bisa mengadaptasi cerita lewat penyatuan konsep atristik juga..
Well… menurut sayapun..musik scoringnya sangat kurang banyak… sedikit sekali..
Yah.. itu minor sih…
Padahal kan album soundtrack Laskar Pelangi sudah sangat bagus untuk ditempelkan ke dalam film itu..?? WOW..!

Yang pasti… Akting natural dari anak-anak Belitong itu.. perlu saya acungin jempol..!
Salut..!
Begitu luar biasa..! Natural dan menghayati peran dengan apa adanya.. dan sesuai
porsinya…
Sampai aku ikut merinding melihat acting dengan karakter mereka yang apa adanya.
Lucu, sedih dan dengan manisnya anak-anak ada disana..


Sebenarnya aku tidak ingin film ini besar hanya karena novelnya, seperti AAC kemarin yang begitu booming, padahal itu adalah film yang biasa sekali.
Tapi film ini besar karena memang kualitas dari film ini memang bagus dan patut diperhitungkan dan ditonton..

Saya tidak ingin film Ketika Cinta Bertasbih yang sekarang sedang syuting, akhirnya nasibnya seperti AAC. Booming karena novelnya, bukan karena kualitasnya…

Walaupun saya belum membaca buku Laskar Pelangi, dan kata orang katanya begitu bagus dan membooming..

Saya mengakui jika film ini bagus dan layak ditonton, untuk seluruh keluarga anda.

Tidak ada komentar: